Pengumuman Kenaikan Kelas SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2019/2020

Pengumuman Kenaikan Kelas secara lengkap dapat di download pada link berikut ini:

Pengumuman Kenaikan Kelas SMAN PLUS PROVINSI RIAU Tahun Ajaran 2019/2020

Informasi PPDB SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2020/2021

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN Plus Provinsi Riau 
Tahun Ajaran 2020/2021

1. Pendaftaran di mulai tanggal 10-29 Februari 2020
2. Seleksi Akademis 22 Maret 2020
3. Hasil Seleksi Akademis (Ujian Tertulis) diumumkan tanggal 2 April 2020
4. Tes Fisik, Psikotes, Pemeriksaan Kesehatan, Wawancara dan Tes Kemampuan Bahasa             Inggris  akan dilaksanakan 11,12,13 dan 14 April 2020
5. Pengumuman Hasil PPDB SMAN Plus Provinsi Riau akan diumumkan tanggal 6 Mei 2020
Informasi Lebih lanjut dapat didownload pada link berikut ini:

Puisi “Do’a Untuknya” Karya Mutia Adlina Rifani

Mutia Adlina Rifani (XI MS 2)

Menyisipkan pesan
Pada angin pembawa berita
Berdoa agar sampai padanya
Secercah kebaikan untuk dirinya
Menggebrak momen luar biasa
Menepis gengsi
Demi buah hati tercinta
Melupakan sakit
Dan mencoba bertahan tanpa makna
Walau sakit
Ia masih disana
Mencurahkan kasih tulus
Tanpa harap balas jasa
Hanya sekedar doa
Penyelamat jiwa
Walau badai menerpa
Kasih sayang tetap tidak tergoyah
Tulus hati dan jiwa
Walau iman kadang lelah
Bukan harta yang ia cari
Bukan intan berlian untuk diberi
Hanya doa penyejuk hati
Dari buah permata hati

Puisi ‘Dia” Karya Mutia Adlina Rifani

                                                          Mutia Adlina Rifani


Selembut sutra bagiku
Saat terasa jarinya mengelus
Mengusap embun pagi itu
Dengan senyuman tulus
Menjaga bagaikan singa
Si pemilik hutan rimba
Menjaga angkasa raya
Serta atmosfer rasa
Tapi dia bukan manusia super
Dia bukan Tuhan
Dia hanya bagian penting
Dari hidupku yang sangat aku syukuri
Dia adalah ibu
Ibuku…

Ilmu Arsitektur Bernuansa Nusantara 4.0 Memicu Konsepsional Estetika Indonesia

Andre Putra Setiawan (XI MS 2)

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke, baik pulau yang besar maupun yang kecil. Semua itu membentuk negara yang telah disahkan oleh pemimpin terdahulu yang berjuang hingga titik terakhirnya. Hingga terciptalah negara yang mengandung beragam budaya dan warisan yang menjadi legenda dunia yang terus dilestarikan masyarakat dan pemuda.

Banyaknya ragam bahasa dan budaya membuat ciri khas bangsa ini mampu membuat peneliti sosial budaya mengkaji dasar dari pada bangsa ini. nenek moyang kita berhasil membuat takjub kaum peneliti dengan beragam kekayaan budaya yang diciptakan. Karakteristik nusantara telah banyak diakui oleh dunia dan dijadikan warisan dengan estetikanya.

“Kebudayaaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta  masyarakat” (Soelaiman Soemardi, 1971)

Didalam interaksi berbudaya di nusantara terdapat lingkup kecil yang penting dalam infrastruktur kelingkungan negara yang bernama ilmu arsitektur. Ilmu arsitektur merupakan ilmu yang mempelajari tentang tata merancang sebuah bangunan berkonsep yang disesuaikan dengan ekologi (Wikipedia, 2019). Arsitektur juga menjadi salah satu bidang studi dalam jenjang kuliah, banyak pemuda bangsa yang memilih ilmu ini untuk dikaji dan diterapkan, besarnya cita dari para pemuda membuat banyaknya saingan dalam menjual hasil karyanya kepada para pembeli. untuk itu diperlukan adanya karakteristik dalam bersaing terutama dikancah global luas yang berpotensi tinggi.

“Arsitektur merupakan seni dalam menegakkan bangunan, dimana di dalam seni tersebut terdapat segi perencanaan, konstruksi dan solusi dekorasi” (Jess Stein, 1959)

Zaman digitalitas yang dinamakan revolusi industri 4.0 membuat segala aspek termasuk dunia infrastruktur merevisi sistemnya. upaya mempertahankan budaya membutuhkan inovasi baru untuk mengenalkannya pada dunia, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih diperlukan adanya keunikkan subjek atau objek yang menonjol. Salah satu upaya yaitu dengan akulturasi yang merupakan suatu proses sosial dalam masyarakat di mana terjadi interaksi antara dua budaya yang berbeda (Wikipedia, 2019)
Link terkait:
Siswa SMAN Plus Riau mengikuti Kongres Pemuda 2019
Siswa SMAN Plus Riau menjadi Pelajar Teladan Bangsa 2019
Makna dan Filosofi Andhika Bhayangkari
Makna dan Filosofi Mengheningkan Cipta

“Akulturasi adalah perpaduan dua budaya yang berbeda dalam kehidupan yang harmonis dan damai” (Muhammad Hasyim, 2011)

Inovasi Arsitektur Nusantara 4.0

Indonesia memiliki budaya berkualitas tinggi yang berpotensi dalam cangkupan global. Di mana budaya yang memiliki daya tarik dan membuat apresiasi besar terhadap para penilai. Dengan demikian budaya berkemungkinan besar dapat dijadikan senjata runcing untuk bersaing di tingkat dunia. Dengan zaman yang terus berkembang dan terjadi era serba digital, budaya akan terus ada. Dalam mempertahankannya terdapat peran pemuda yang berkewajiban untuk melestarikan budaya dengan cara uniknya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya ”

Dalam dunia arsitektur, ide atau rancangan sangat penting untuk para arsitek berkompetisi  menghasilkan mahakarya terbaiknya yang memiliki daya jual tinggi dipasaran internasional (Thompson Publishing, 2007). Untuk mencapai jenjang tersebut perlu adanya abstrak yang tepat untuk memenuhi kriteria, arsitek membutuhkan inovasi yang bersifat persuasif dan berkualitas tinggi. Adapun salah satu inovasi yaitu Nusantara 4.0 yaitu memasukkan unsur budaya yang disesuaikan dengan zaman.

“Arsitektur tidak dilihat dari kemewahan bahan, teknologi , dan harganya.” (Y.B.Mangunwijaya, 1988)

Arsitektur Nusantara 4.0 memiliki karakteristik dalam bersaing. Adapun akulturasi yang diterapkan berupa deculturation di mana unsur budaya lama dicampur dengan budaya baru dengan perpaduan yang sesuai zaman (maxmanroe.com, 2016). Kajian tentang ragam bentuk akulturasi lokal dan modern ini merujuk pada beberapa faktor yang berpengaruh, keterkaitan dan konteks unsur budaya dan arsitektur empiris dan bersifat deskriptif dan interpretative (Bachtiar fauzy, 2017)

Untuk itu Indonesia perlu mewujudkan inovasi Nusantara 4.0 yang modern tanpa meninggalkan unsur budaya nusantara. Salah satu cerminan inovasi Nusantara 4.0 yaitu bangunan Islamic Center di Kabupaten Lampung Timur, bangunan ini terdiri dari masjid Baitushobur dan balai adat Sesat Agung dengan pola modern dipadu dengan budaya khas tradisional Lampung yang memiliki tatanan yang dimiliki setiap rumah tradisional Lampung. Secara bentuk masjid ini mempertahankan pola sosok ringan karena tampak serambi besar yang terbuka dan memperlihatkan kolom yang berdiri. Dan pada bagian atapnya terdapat satu atap yang menjulang tinggi berhierarki lebih tinggi dibanding atap lain sebagai cerminan rumah adat Lampung (Jurnal Itenas Rekarupa, 2017).

Untuk unsur modern yaitu penggunaan dinding beton, sistem sirkulasi terbaru, penggunaan metode pembangunan terbaru, perencanaan digital dan hal lainnya. Sedangkan unsur budaya local menggunakan serambi besar yang berukir ornamen Lampung, atap yang menjulang khas adat Lampung dan struktur material kayu dibeberapa bagian serta yang lainnya (Jurnal Itenas Rekarupa, 2017)

Adapun yang menjadi tujuan dari inovasi Nusantara 4.0 ini adalah:

•Terjadi perubahan pandangan terhadap arsitektur, di mana bangunan yang berkualitas juga tidak meninggalkan unsur budaya (beni ahmad saebeni, 2012)

•Masyarakat luas akan lebih mengenal dengan budaya warisan Indonesia

•Bernilai jual tinggi dengan nilai dan konsep estetika budaya nusantara

Dengan banyaknya budaya Indonesia yang memiliki ikon tertentu dapat menjadi inspirasi dan ide besar bagi para arsitek untuk mewujudkan inovasi Nusantara 4.0, hal tersebut tentu sangat berdampak besar pada perkembangan dunia infrastruktrur Indonesia dan mampu membuka mata dunia untuk saling bersaing dan memegang hasil terbaik. Budaya tak hanya dilestarikan tetapi dikembangkan hingga mampu membangun jiwa nasionalisme nusantara.           Bila Nusantara 4.0 terwujud akan menjadi bentuk yang akan membanggakan Indonesia dan meruntuhkan stigma yang buruk serta membuat Indonesia maju.

Peran Pemuda dalam Majunya Dunia Arsitektur

Pemuda merupakan indikator terpenting dalam jayanya Indonesia,  pemuda yang akan meneruskan perjuangan dalam membangun nusantara, perannya yang sangat penting dan menjadi faktor utama suatu keberhasilan negara. Indonesia sendiri memiliki banyak pemuda yang bercita tinggi menjadi arsitektur dan menciptakan mahakaryanya.

Dalam membuat sebuah bangunan diperlukan seorang arsitek yang berpendidikan khusus agar yang dihasilkan sesuai dengan rancangannya, maka dari itu diperlukan pemuda yang berantusias,  terdapat peran yang harus ditindak lanjuti sebagai generasi penerus. Adapun peran tersebut ialah berkewajiban menuntut ilmu agar berwawasan, mempelajari teknologi di bidang arsitektur serta menguak limit diri. Tentu saja diperlukan kerja sama yang kuat antar pemuda bangsa agar Indonesia selalu bangkit.

Dengan kesimpulan, peran pemuda sebagai kaum berpendidikan tinggi akan menciptakan arsitek berkualitas. Ilmu arsitektur Indonesia akan maju dan tercapainya inovasi nusantara 4.0. yang awalnya budaya tertinggal dalam dunia arsitektur menjadi hidup berdampingan dan berkembang bersamaan dengan perkembangan teknologi. Dengan nilai estetikanya terciptalah bangunan modern dengan perpaduan adat tradisional. Terbukalah pemikiran bangsa lain tentang Indonesia. Arsitektur Indonesia tidak akan diam terbelenggu, melainkan berkembang tanpa meninggalkan budaya sebagai karakteristik harta warisannya yaitu budaya nusantara .

Daftar Pustaka

·         Wikipedia ensiklopedia bebas , arsitektur https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur
·         Wikipedia ensiklopedia bebas, akulturasi https://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
·         Fauzy, bachtia, jurnal itenas rekarupa (2019)

Keragaman Bhinneka Tunggal Ika

Mauhammad Naufal Fitro

Suatu yang patut dibanggakan bahwa indonesia satu-satunya pulau yang dianugerahi ragam suku, budaya, agama, dan bahasa. Dan begitu juga kekayaan alamnya. Sangat banyak ragam budaya yang tersebar di seluruh Indonesia yang bermuara menjadi budaya nasional bangsa Indonesia. Menggambarkan perbedaan tentu bukan untuk menghakimi dan memboikot keragaman, justru kita sebagai masyarakat Indonesia bangga dan bersyukur akan anugerah akan aset yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Kita tentu mengenal istilah kebhinnekaan sejak bangku sekolah dasar, sejak itu kita diajarkan mengenal budaya dan bangsa. Dan tidak lupa pula kita belajar untuk menghargainya. Tujuannya adalah agar generasi sekarang atau selanjutnya memiliki kehidupan damai, tentram dan sejahtera.

Kita mengenal kebhinnekaan dari kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan kalimat ini berasal dari kitab sutasoma karangan Mpu Tantular. Diterjemahkan dari kata-kata, Bhinneka memiliki arti “beraneka ragam”, kata neka tersebut berasal dari bahasa sansakerta yang mempunyai arti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam bahasa Indonesia .
Link terkait:
Siswa SMAN Plus Riau mengikuti Kongres Pemuda 2019
Siswa SMAN Plus Riau menjadi Pelajar Teladan Bangsa 2019
Makna dan Filosofi Andhika Bhayangkari
Makna dan Filosofi Mengheningkan Cipta
Kata Ika berarti “itu”. Jadi secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan ini bukan hanya berisi tentang politik pencitraan namun sudah dipraktekkan sejak lama.

Kita semua tahu bahwa di indonesia banyak ragam suku, agama, budaya. Dengan demikian masyarakat indonesia harus saling menghargai satu sama lain. Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain dan lingkungan sekitar untuk mengembangkan dan melestarikan eksistansinya. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang disekitarnya.

Belakangan ini banyak terjadi perselisihan kerap dibesar-besarkan. Banyak fitnah yang terjadi karena mencari kepentingan pribadi dan kelompok sehingga terjadi perpecahan dan persaudaraan disisihkan. Didalam Islam disebutkan dalam Q.S. Ali Imran ayat 103 yang artinya “Berpegang teguhlah di jalan Allah, di tali Allah, dan janganlah bercerai-berai”.

Dan juga dalam Q.S. Al Hujrat ayat 13 yang artinya “kita diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dan yang paling mulia di antara kita adalah orang yang paling bertaqwa”. Sudah jelas bahwa ayat diatas melarang kita untuk bercerai-berai dan Tuhan memerintahkan agar kita semua bersatu meski suku, agama, dan budaya berbeda-beda.

Sesungguhnya Indonesia sudah memiliki jawaban dari semua persoalan yang ada. Hanya saja Bangsa Indonesia belum siap untuk menghadapinya. Maka sekarang bukan aku, kamu dan mereka. Tetapi kita! Kita perlu menjadi alat untuk perubahan ke arah yang lebih baik kedepannya untuk memahami apa itu kebhinnekaan serta selalu mencintai, menghargai, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Maka Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap kokoh dan bersatu dalam Pembangunan Bangsa.

24 Siswa Kelas XI IPS melakukan Research Sosiologi di desa Koto Tuo, Kampar

Pada hari Minggu tanggal 18 Agustus 2019 lalu, sebanyak 24 siswa/I kelas XI SS SMA Negeri Plus Provinsi Riau dan 2 orang guru pendamping melakukan kegiatan penelitian di desa Koto Tuo, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar. Kegiatan ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana proses kehidupan masyarakat desa Koto Tuo Kecamatan XIII Koto Kampar yang daerahnya terletak di perbatasan Riau dan Sumatera Barat.
Tujuan dari kegiatan ini adalah ingin mengetahui perubahan sosial yang terjadi akibat perpindahan masyarakat yang dulunya berada di kawasan danau PLTA Koto Panjang. Geografis Desa Koto Tuo merupakan salah satu Desa di Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar. Desa ini berjarak 5 KM dari situs budaya candi Muara Takus. Desa Koto Tuo merupakan desa yang perkebunannya didominasi oleh karet. Hal ini disebabkan pada tahun 1993 desa Koto Tuo yang awalnya berada di danau PLTA Koto Panjang, di pindahkan oleh pihak pemerintah karena desa mereka akan ditenggelamkan untuk menjadi sumber tenaga pembangkit listrik di daerah tersebut. Perpindahan ini menuai kontroversi dari pihak masyarakat desa.
Para masyarakat desa menolak untuk dipindahkan ke daerah yang telah ditentukan. Setelah

melakukan kesepakatan, para masyarakat desa setuju dipindahkan ke lokasi yang telah ditentukan oleh pihak pemerintah dan diberikan ganti rugi berupa rumah dan sebidang perkebunan karet seluas 2 Ha. Mayoritas mata pencaharian masyarakat desa Koto Tuo saat ini adalah petani karet dan nelayan. Bahasa yang digunakan masyarakat desa Koto Tuo adalah bahasa ocu, dengan mayoritas agama Islam. Ada lima suku yang tinggal di desa Koto Tuo yaitu; Pitopang, Piliang, Chaniago, Domo, Melayu. Masing-masing pucuk suku memiliki gelar yang berbeda-beda. Pucuk suku Pitopang bergelar Datuok Majokayo, Pucuk suku Chaniago bergelar Paduko Rajo dan Paduko Tuan, Pucuk suku Melayu bergelar Sindaro Kayo dan Datuok Kayo, Pucuk suku Domo bergelar Gindo Marajo, jalang Koto, Datuok Sati; dan Pucuk suku Piliang bergelar Datuok Masi.

Pemberian gelar pucuk suku diwariskan berdasarkan garis keturunan. Pewarisan gelar ini disertai pemotongan hewan ternak dengan jenis yang berbeda. Pulang Limogo adalah adat pewarisan gelar yang pemotongan hewan ternaknya berupa ayam, dan syukuran yang dilakukan sebatas keluarga dan kerabat dekat. Pulang Pisoko yaitu adat pewarisan gelar dengan hewan yang dipotong berupa kambing dan syukuran yang diadakan mengundang warga sekampung atau sesuku. Sedangkan Pulang Soko yaitu adat pewarisan gelar yang dilakukan dengan pemotongan kerbau dan memanggil warga se-negeri untuk melakukan syukuran.
Setiap tahunnya, setelah lebaran masing-masing suku mengadakan Jalang-jalangan atau halal bi halal antar suku yang diadakan di Balai desa. Pewaris gelar yang sudah melakukan syarat pewarisan gelar sudah boleh menjadi perwakilan suku untuk menghadiri acara ini. acara ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan kekeluargaan antar suku. Biasanya acara-acara yang dilakukan di desa Koto Tuo diawali dengan bakar kemenyan sebagai tanda dimulainya acara tersebut. Ada juga beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakat desa, salah satunya adalah pernikahan sesuku.
Warga desa akan dikeluarkan dari suku dan tidak boleh berdomisili di desa jika melakukan pernikahan sesuku. Warga desa juga diwajibkan untuk sholat di mesjid. Jika bertamu ke rumah orang, si tamu tidak boleh melihat lebih jauh kedalam rumah sebelum diizinkan sang tuan rumah. Semoga penelitian sosiologi kelas XI SS bermanfaat bagi mereka sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan mereka dalam memahami perubahan sosial di masyarakat.