Pengumuman Kenaikan Kelas SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2019/2020

Pengumuman Kenaikan Kelas secara lengkap dapat di download pada link berikut ini:

Pengumuman Kenaikan Kelas SMAN PLUS PROVINSI RIAU Tahun Ajaran 2019/2020

Pengumuman Tahap Akhir PPDB SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2020/2021

Pengumuan PPDB SMAN Plus Provinsi Riau dapat di download di :
Pengumuman Tahap Akhir PPDB SMAN Plus Prov.Riau Tahun Ajaran 2020/2021

Pengumuman Kelulusan Siswa Kelas XII SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2019/2020

Pentingnya Menuntut Ilmu


Misdianto, M.Pd
(Guru Bahasa Indonesia SMAN Plus Provinsi Riau)
“Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, waktunya adalah dari buaian ibu (bayi), sampai masuk liang kubur” (Hadits Rasullulah SAW).
Dari bunyi hadits di atas, sangat jelas sekali perintahnya, bahwa dalam Islam menuntut ilmu hukumnya adalah wajib.Artinya adalah, jika dikerjakan dan dilaksanakan kita akan mendapat pahala dan jika diabaikan atau tidak dilaksanakan kita akan mendapat dosa. Jadi, kita sebagai seorang Muslim, marilah memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT untuk menyegerakan menuntut ilmu yang benar. Benar dalam artian, sesuai dengan Alquran dan Hadits Shahih dari Rasullulah SAW agar kita memperoleh petunjuk dan kebenaran. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang muslim yang beruntung kelak jika kita mati. Hal ini dipertegas oleh sebuah kata pepatah bahwa kesempatan baik itu jarang sekali yang datang dua kali.

Waktu untuk menuntut ilmu ialah sejak manusia di lahirkan dan berakhir pada saat manusia meninggal dunia. Orang Barat menyebutnya “Long Life Education” (pendidikan seumur hidup). Orang yang menuntut ilmu akan diberikan pahala yang sangat besar, seperti sabda Rasullulah SAW  yang terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain dari sahabat Abu Hurairah yang artinya: “Barangsiapa berjalan di suatu tempat guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”

Perintah menuntut ilmu tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”(HR. Ibnu Abdulbari). Dari hadist tersebut, kita memperoleh pengertian bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan, menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisis segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat. Atau baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup. Hal yang paling di harapkan dari menuntut ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu. Maka dari pemaparan di atas, dapat simpulkan oleh penulis bahwa menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik, karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan.

Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu dianggap sangat penting. Alasannya, karena belajar dalam Islam bertujuan agar kita dapat ilmu untuk hidup di dunia dan memperoleh bekal untuk di akhirat. Hal-hal penting tentang ilmu yang harus kita pelajari nantinya akan berpengaruh dan Insya Allah dapat menjadi pegangan kita selama hidup di dunia yaitu dengan ilmu kita dapat mencari nafkah untuk kebutuhan hidup.

Ilmu yang kita peroleh dapat disimbolkan sebagai bunga-bunga ibadah. Maksudnya, kita harus memahami untuk apa kita hidup di dunia ini. Allah menciptakan makhluknya hanya untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya. Jadi, semua hal di dunia yang telah dan akan kita lakukan, semua ditujukan hanya pada Allah. Cara-caranya adalah dengan senantiasa melakukan perbuatan baik. Apa itu perbuatan baik? Perbuatan baik yaitu semua pikiran, perkataan dan tingkah laku yang berniat baik, dan dilakukan dengan sikap-sikap terpuji untuk menciptakan kedamaian dan keindahan dalam hidup.

Dengan ilmu yang baik akan mencerminkan akhlah mulia. Maksudnya, bahwa ilmu mengandung tatanan-tatanan yang sistematis dan mampu membentuk karakter seseorang. Seperti apa ilmu yang dimiliki seseorang maka seperti itulah kira-kira cerminan akhlaknya. Insan muslim yang berilmu pasti akan memperlihatkan bentuk tingkah laku dan perkataan yang dapat diterima oleh akal sehat dan mencerminkan kesopanan serta pribadi yang baik. Misalnya, dalam bersikap disiplin, rajin, ramah, sopan, penyayang, suka menolong. Hal-hal tersebut merupakan sikap seorang yang memiliki akhlak baik dan berilmu. Kita sebagai umat muslim harus senantiasa meningkatkan ilmu yang kita miliki dan mengembangkannya untuk masa depan. Dengan demikian, kaum muslim dapat memberi contoh akhlak yang baik bagi semua umat manusia di muka bumi ini.

Ilmu merupakan cahaya kehidupan bagi umat manusia. Dengan ilmu, kehidupan di dunia terasa lebih indah, yang susah akan terasa mudah, yang kasar akan terasa lebih halus. Dalam menjalankan ibadah kepada Allah, harus dengan ilmu pula. Sebab beribadah tanpa didasarkan ilmu yang benar adalah sisa-sia belaka. Oleh karena itu, dengan mengamalkan ilmu di jalan Allah SWT merupakan ladang amal (pahala) dalam kehidupan dan dapat memudahkan seseorang untuk masuk ke dalam surga Allah SWT. Dia sangat mencintai orang-orang yang berilmu, sehingga orang yang berilmu yang didasarkan atas iman akan diangkat derajatnya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al-Mujadalah: 11).

Kebahagian di dunia dan akhirat akan dapat diraih dengan syarat memiliki ilmu yang dimanfaatkan. Manfaat ilmu pengetahun bagi kehidupan manusia, antara lain: Pertama, ilmu merupakan cahaya kehidupan dalam kegelapan, yang akan membimbimg manusia kepada jalan yang benar. Kedua, orang yang berilmu dijanjikan Allah akan ditinggikan derajatnya menjadi orang yang mulia beserta orang-orang yang beriman. Ketiga, ilmu dapat membantu manusia untuk meningkatkan taraf hidup menuju kesejahteraan, baik rohani maupun jasmani. Terakhir, keempat, ilmu merupakan alat untuk membuka rahasia alam, rahasia kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Hal yang dijelaskan di atas, diperkuat oleh hadits nabi, yakni: “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).

Di dalam menuntut ilmu, seseorang perlu menggunakan cara-cara yang efektif dan efisien sehingga setelah menuntut ilmunya nanti, ilmunya barokah, bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan masyarakat pada umumnya. Ada beberapa adab yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh para penuntut ilmu, antara lain seperti: ikhlas karena Allah SWT, dalam keadaan suci, berakhlak mulia, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, meminta pertolongan Allah SWT, istiqomah, dan sabar.

Akhirnya, penulis mengharapkan kita bersama untuk marilah kita senantiasa menuntut ilmu yang bermanfaat dan mengajarkan ilmu kepada orang lain sebagai sedekah. Moga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mendekatkan diri dalam beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. Amin, ya Robbal Alamin. ***

Upaya-upaya Peningkatan Kesiapsiagaan terhadap Bencana Gempa Bumi melalui Manajemen dan Pendidikan Simulasi bagi Warga Sekolah



Misdianto, M.Pd (Guru Bahasa Indonesia SMAN Plus Prov.Riau)

Abstrak
Sekolah siaga bencana adalah kunci utama untuk melindungi anak-anak dan generasi muda dalam membentuk lingkungan belajar yang kondusif dan aman dari bencana yang tidak dapat terhindarkan. Pencapaian kesiapsiagaan sekolah sangatlah penting mengingat Indonesia termasuk negara dengan resiko bencana yang tinggi.Tujuan artikelini adalah menjelaskan tentang kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana gempa bumi, baik pada saat prabencana, ketika bencana, dan setelah bencana terjadi. Artikel ini dibuat untuk memaparkan sejauhmana dampak gempa bumi terhadap bangunan sekolah sebagai sarana pendidikan dan resikonya  ke para peserta didik. Metode penulisan artikel ini adalah dengan menyajikan fakta-fakta yang dirangkum oleh penulis dan diperkuat dengan data-data atau bukti-bukti yang dapat dipercaya dari berbagai sumber informasi. Karena kesiapsiagaan bencana gempa bumi dari sekolah tergolong masih rendah maka hasil dari penulisan artikel ini diharapkan bahwasanya kesiapsiagaan dapat memberikan penyadaran yang berarti pada kesemua elemen sekolah dan masyarakat sekitarnya melalui pemberian latihan-latihan pada tahap prabencana, tahap bencana (tanggap darurat) dan pascabencana (rekonstruksi dan rehabilitasi). Kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi sangat diperlukan karena bisa saja bencana gempa itu dapat terjadi setiap saat yang tanpa sepengetahuan manusia. Makanya, perlu ditingkatkan selalu untuk lebih siaga dan bahkan tangguh dalam menghadapi bencana gempa bumi. Sekolah harus senantiasa siaga dan bahkan siap untuk menjadi tangguh jika seandainya terjadi bencana gempa bumi yang tak terduga.
Kata Kunci: gempa bumi, kesiapsiagaan,bencana
I.        PENDAHULUAN  
1.1    Latar  BelakangMasalah
           Indonesia memiliki historis bencana dan potensi bencana di masa mendatang karena berbagai faktor, misalnya letak, kontur, dan dinamika penduduknya. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986). Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 16002000 terdapat 105 kejadian tsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk., 2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600 – 2000  di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa bumi. Jadi, pulau-pulau  di  Indonesia  secara  geografis  terletak  pada  pertemuan  3  lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Australasia, lempeng Pasifik, lempeng Eurasia serta Filipina. Hal ini menyebabkan Indonesia rentan secara geologis. Di samping itu, kurang lebih 5.590 daerah aliran sungai (DAS) yang terdapat di Indonesia, yang terletak antara Sabang dan Merauke, mengakibatkan Indonesia menjadi salah satu negara yang berisiko tinggi terhadap ancaman bencana, salah satunya adalahgempa bumi.
          Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Japan Association for Fire Science and Engineering (JAFSC) terungkap bahwa 34,9% masyarakat terpaksa melakukan tindakan pertolongan pertama terhadap dirinya sendiri karena berbagai sebab karena akses yang sulit/terbatas. Oleh karenanya sebuah  keharusan bagi masyarakat untuk mempelajari teknik keselamatan, pertolongan pertama dan bertahan hidup walaupun tingkat dasar. Indonesia banyak mengoleksi ancaman yang bisa menyebabkan bencana. Ini dikarenakan posisi geologis, tipografi, dan demografi Indonesia serta posisi Indonesia di khatulistiwa. Sehingga menyebabkan Indonesia sangat terancam dengan bahaya, salah satunya adalah bencana gempa bumi.
          Setelah bencana gempa bumi, bisa jadi terjadi lagi bahaya susulan atau secondary hazard. Bukanlah berarti tingkat bahayanya lebih rendah, berdasarkan pengalaman justru bahaya susulan ini bisa sangat mematikan. Bahaya susulan tersebut bisa menjadi bencana kedua bila tidak tertangani dengan baik. Resiko bahaya susulan yang terkait dari bencana gempa bumi atau bahaya sebelumnya, seperti terjadinya tsunami, gedung runtuh, jebolnya dam atau tanggul (banjir bandang), kebakaran, tanah longsor, bencana industri, dan timbulnya wabah.
            Memang sudah faktanya bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan terhadap ancaman bencana, seperti tanah longsor, banjir, tsunami, gempa, kebakaran, bahkan kekeringan. Indonesia juga memiliki gunung api terbanyak karena paling aktif sedunia. Menurut catatan BNPB tahun 2017 mengatakan bahwa 75% dari seluruh sekolah se-Indonesia rawan bencana. Dan dalam 5 tahun terakhir ini, terdapat 46.648 sekolah masih rawan bencana. Betapa sedihnya semangat belajar para peserta didik harus terenggut oleh bencana. Sayang sekali, jika para peserta didik harus bersedih belajar karena sekolahnya berdampak bencana. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tahu dan melaksanakan sekolah aman bencana. Sekolah aman bencana pada dasarnya ditujukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar bagi semua warga sekolah melalui upaya pengurangan resiko bencana. Penyelenggaraan sekolah aman bencana secara aktif melibatkan semua warga sekolah, termasuk warga sekolah penyandang instabilitas atau yang berkebutuhan khusus. Sekolah aman bencana, juga melibatkan warga umum sekitarnya. Semua pihak terlibat untuk memastikan tidak ada tertinggal dalam situasi bencana tersebut.
          Guru sebagai garda utama pendidikan perlu dilatih dan dipersiapkan sebagai agen pengurangan resiko bencana untuk meneruskan pengetahuan dan keterampilan pengurangan resiko bencana.kepada sesama rekan guru dan khususnya kepada peserta didik. Fokus dalam hal-hal praktis di tengah SDM yang terbatas mendukung keberhasilan dan juga keberlanjutan pelaksanaan sekolah aman bencana. Jadi, yang perlu diingat bahwa dalam pengurangan resiko bencana, aksi nyata yang dapat menyelamatkan korban jiwa. Simulasi yang diselenggarakan sekali dan setidaknya dua kali dalam setahun merupakan hal nyata yang dapat mendukung terciptanya budaya aman di sekolah. Selain itu, penting bagi sekolah untuk mengembangkan mekanisme komunikasi dan koordinasi sederhana saat terjadi situasi darurat. 
1.2      Perumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1)    Apa sajakah langkah-langkah kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi?
2)    Bagaimanakah simulasi kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di lingkungan sekolah?
3)    Bagaimana penyusunan rencana aksi di sekolah terhadap darurat bencana gempa bumi?
4)    Apa saja yang menjadi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di lingkungan sekolah?
1.3    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini, yaitu (1) untuk mengetahui langkah-langkahkesiapsiagaan sekolah terhadap bencana gempa bumi, (2) untuk mengetahui simulasi kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di lingkungan sekolah, (3) untuk mengetahui penyusunan rencana aksi di sekolah terhadap darurat bencana gempa bumi, dan (4) untuk mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di lingkungan sekolah.
1.4    Manfaat
      Penulisan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penulis untuk memahaman tentang bencana alam, terutama bencana gempa bumi dalam upaya-upaya mengurangi resiko yang ditimbulkannya. Penulisan ini juga diharapkan dapat memberikan solusi atau upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam mengurangi resiko yang ditimbulkan dari bencana gempa bumi tersebut.
II.      TINJAUAN  PUSTAKA
Adapun kata yang perlu dijelaskan pada tulisan ini ada dua kata, yaitu pada kata “kesiapsiagaan” dan “bencana”. Berikut adalah penjelasannya berdasarkan teori sebagai berikut.
2.1  Pengertian Kesiapsiagaan
          Kesiapsiagaan merupakan suatu bentuk dasar dari sikap antisipasi terhadap suatu kejadian yang akan berlangsung. Kesiapsiagaan juga memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan. Kesiapsiagaan juga merupakan suatu program pembangunan yang ada pada kesehatan jangka panjang yang memiliki tujuan serta kapasitas yang besar dalam masalah kesehatan. Hal ini dipertegas dalam Pasal 1 Angka 7 UU Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana  yang mengatakan bahwa kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
          Pemahaman terhadap konsep kesiapsiagaan yang berkembang di masyarakat dapat dikatakan cukup beragam. Menurut  Carter (1991) dalam LIPI-UNESCO ISDR (2006), kesiapsiagaan adalah tindakan-tindakan atau upaya-upayayang memungkinkan pemerintahan, organisasi-organisasi, masyarakat, komunitas, dan individu untuk mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan tepat guna. Termasuk ke dalam tindakan kesiapsiagaan adalah penyusunan rencana tanggap darurat bencana, pengembangan sistem peringatan dini, peningkatan kemampuan diri, dan lain-lain.
          Jadi, dari pemaparan di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kesiapsiagaan merupakan gabungan dari dua istilah yang berbeda. Karena itu untuk bisa memahami kesiapsiagaan dengan lebih baik lagi, kita dapat mendalami dua istilah tersebut, yaitu: 1. ke-siap-an, maksudnya adalah di mana masa kesiapan terjadi saat kita menyadari adanya potensi ancaman bahaya sampai masa tanda-tanda munculnya ancaman bahaya sudah tampak. Lamanya masa ini berbeda pada tiap ancaman, juga tergantung pada jelas tidaknya tandatanda munculnya bahaya. Fokus utama pada masa ini adalah pembuatan “rencana untuk menghadapi ancaman bahaya (bencana)”. Ada dua rencana (plan) yang dibuat pada masa ini, yaitu rencana persiapan untuk menghadapi ancaman bahaya/ bencana (PLAN A) dan rencana “saat” ancaman bahaya/ bencana terjadi (PLAN B).
          Istilah yang selanjutnya, istilah ke -2, adalah ke-siaga-an, maksudnya kesiagaan adalah masa yang relatif pendek, dimulai ketika muncul tanda tanda awal akan adanya ancaman bahaya. Pada masa ini, rencana B (PLAN B) mulai dijalankan dan semua orang diajak untuk siap sedia melakukan peran yang sudah ditentukan sebelumnya.
          Dengan kata lain, kesiapsiagaan merupakan perencanaan terhadap cara merespon kejadian bencana. Perencanaan dibuat berdasarkan bencana yang pernah terjadi dan bencana lain yang mungkin akan terjadi. Tujuannya adalah untuk meminimalkankorban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum. Pelayanan umum itu meliputi upaya mengurangi tingkat resiko pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, serta pelatihan warga di wilayah rawan bencana.
2.2  Pengertian Bencana
             Bencana adalah kejadian akibat fenomena alam yang luar biasa dan/ atau yang disebabkan ulah manusia, yang menimbulkan hancurnya bangunan, kerugian harta (material), korban jiwa, dan kerusakan lingkungan. Di mana masyarakat setempat tidak dapat mengatasinya sehingga membutuhkan bantuan dari luar. Hal ini dipertegas dalamUndang-undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam, dan mengganggu penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Selajutnya, Nurjanah, dkk (2012) mereka menerangkan bahwa peristiwa bencana yang ditimbulkan oleh gejala alam maupun diakibatkan oleh kegiatan manusia, baru dapat disebut bencana ketika masyarakat/manusia yang terkena dampak oleh peristiwa itu tidak mampu menanggulanginya.Ancaman alam itu sendiri tidak selalu berakhir dengan bencana.
III.    PEMBAHASAN MASALAH
3.1    Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Sekolah Terhadap Bencana Gempa Bumi
          Well Prepared for the Worst and Keep Alert. Kita tidak tahu kapan kedaruratan dan bencana terjadi, tetapi kita tahu bahwa Indonesia rawan bencana dan kedaruratan lainnya. Orang yang beruntung adalah orang yang bersiaga dan bersabar. Oleh karena itu, bersiaplah kita sekarang juga. Langkah kesiapsiagaan bisa dilakukan dengan ketujuh cara berikut ini, yaitu (1) kenali bahaya yang ada disekitar kita; (2) buatlah rencana kedaruratan dan catat nomor telepon tim penanggulangan bencana, terhubung dengan mereka di media sosial dan jalin hubungan dengan mereka, (3) siapkan tas darurat, yaitu tas survival dan tas petolongan pertama. Serta, pelajari teknik dan bagaimana menggunakannya; (4) amankan tempat tinggal anda dan lakukan simulasi; (5) ketahui langkah aman apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana atau kedaruratan; (6) bersiaplah memberikan pertolongan darurat atau berada dalam situasi sulit pasca bencana; (7) Jaga komunikasi dengan kerabat, keluarga dan pihak penyelamat dan waspadalah dengan bahaya susulan (Secondary Hazards).       Bersiaplah untuk menyelamatkan diri sendiri dan orang yang berada di sekitar kita karena 34,9% pertolongan di saat darurat dan bencana dilakukan oleh orang sekitar kita. Hanya 1,7% yang dilakukan oleh tim penyelamat professional.
3.2     Pentingnya Simulasi Kesiapsiagaan Terhadap Bencana Gempa Bumi di Lingkungan Sekolah
            Simulasi merupakan cara untuk menguji pengetahuan dan pemahaman respon tindakan seseorang ketika terjadi ancaman bencana dan sesudahnya agar seseorang dapat mengurangi resiko bencana. Berikut ini adalah simulasi mengenai ancaman gempa bumi, yaitu orientasi tahap perencanaan mencakup: (a) memastikan semua warga sekolah terlibat simulasi; (b) memastikan semua warga mengetahui peran dan tanggung jawab masing-masing; (c) memastikan semua orang mengetahui tindakan penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi.
          Hal-hal yang dilakukan saat brifing tahapan kegiatan adalah (1) pastikan rencana tanggap darurat dan prosedur saat dan setelah terjadi bencana, sudah dijelaskan kepada semua warga sekolah; (2) pastikan alat dan bahan simulasi sudah disiapkan, meliputi alat peringatan diri, tanda dan jalur evakuasi sudah dipasang, papan titik kumpul terpasang di tempat aman yang disepakati, dan alat pertolongan pertama; (3) semua peserta simulasi sudah memahami tugas dan peran masing-masing; dan (4) berikan perhatian khusus kepada warga sekolah penyandang disabilitas.
          Dalam melakukan evaluasi ada pertanyaan yang menjadi dasar dalam melakukan pertimbangan evaluasi, yakni (a) apakah peserta memahami tujuan dari pelatihan? (b) siapa saja yang berperen aktif dalam latihan? (c) bagaimana melengkapi peralatan pendukung latihan? (d) bagaimana respon peserta latih? (e) berapa lama waktu di dalam setiap langkah latihan? Dan, apa hal-hal yang sudah baik, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
  
3.3    Penyusunan Rencana Aksi Terhadap Darurat Bencana Gempa Bumi di Lingkungan Sekolah
          Pilar pendukung sekolah aman bencana, yaitu sebagai berikut (1) Fasilitas Sekolah  Aman. Maksudnya, mendesain dan membangun sekolah sesuai dengan standar aman bangunan. Priooritas aksi dapat dilakukan dengan sumber daya yang ada, Tindak sedemikian  seperti ini memastikan tata ruang kelas yang aman, pemeliharaan bangunan serta pengawasan pengamanan bangunan secara berkala, tentu dapat mengurangi resiko bencana. (2) Manajemen Bencana di Sekolah. Maksudnya, aksi dapat dilaksanakan diantaranya membentuk tim siaga sekolah, menyusun rencana kerja sekolah, menentukan jalur evakuasi siaga  dan titik kumpul serta memasang rambu-rambu evakuasi agar proses belajar mengajar tetap berlangsung aman pada situasi bencana. Penting juga bagi sekolah untuk mengembangkan strategi belajar mengajar dalam keadaan darurat. (3) Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Resiko Bencana. Maksudnya, meningkatkan kapasitas pengurangan resiko bencana bagi warga sekolah melalui pelatihan praktik simulasi bencana hungga berkelanjutan serta memadukan materi pengurangan materi resiko bencana dalam pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
          Pemerintah RI telah merencanakan pengurangan bencana lebih dari 10 dekade dan menjadi sekolah aman bencana.Sejumlah dengan komiten, ingin kebijakan peta perjalanan sekolah aman bencana dan petunjuk teknis penyelenggaraan sekolah aman bencana pun telah dikembangkan. Sayangnya, sekolah aman bencana belum terjangkau oleh seluruh sekolah di kawasan rawan bencana yang ada di Indonesia. Minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki sekolah, dalam hal ini: (1) guru terlatih, (2) terbatasnya pendekatan secara praktis dan melembaga, dan (3) kurangnya dukungan dari sekolah dan masyarakat menjadi tantangan utama dalam menjangkau lebih banyak sekolah.
          Kegiatan tim siaga di sekolah terbagi atas 3 kegiatan, yaitu sebelum bencana, saat bencana, dan sesudah bencana. Kegiatan sebelum bencana antara lain: (1) menguji alat tanda peringatan bencana, seperti memukul tiang bendera dan kentongan, srine, microphone, dan bahasa isyarat; (2) menyebarkan informasi mengenai peta, rambu, dan jalur evakuasi; (3) melakukan pelatihan untuk kesiapsiagaan bencana di sekolah, misalnya pertolongan pertama, kegiatannya contohnya latihan simulasi bencana, latihan memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan; (4) mempersiapkan pelengkapan kesiapsiagaan bencana di sekolah (misalnya obat-obatan, tas ransel, termometer, dan lain-lain); (5) melaksanakan simulasi/ latihan menghadapi bencana bersama guru dan siswa/ siswi.
          Kegiatan tim siaga yang berikutnya, yaitu saat bencana. Kegiatannya antara lain: (1) membunyikan alat peringatan bencana yang sudah disepakati dengan sekolah; (2) menginformasikan/ sosialisasi kesiapsiagaan bencana sebelum terjadi bencana (pada saat bencana yang diinformasikan adalah perlunya evakuasi dengan tertib menuju titik aman); (3) mengevaluasi siswa/ siswi menuju ke jalur aman dari bencana; (4) memindahkan seluruh siswa, termasuk yang berkebutuhan khusus menuju titik aman; dan (5) memastikan siswa/ siswi sudah berada di tempat yang aman.
          Selanjutnya, kegiatan tim siaga sesudah bencana. Kegiatannya antara lain: (1) mencatat siswa/siswi yang sudah berkumpul di titik aman; (2) mengecek kondisi setiap siswa dan menandai siswa yang membutuhkan tindakan medis dan/ atau psikologis; (3) melakukan tindakan pertolongan, jika diperlukan; (4) melakukan prosedur pemulangan siswa sesuai dengan kesepakatan dengan orang tua siswa; dan (5) tetap memantau informasi terbaru dari sumber yang terpercaya.
          Di sekolah, perlu ada penyusunan prosedur tetap kedaruratan bencana sekolah. Prosedur itu ada dua, yaitu SOP (Standard Operating Procedure) dan protap (prosedur tetap) serta memiliki 6 prosedur, yakni evakuasi (dari) bangunan/ gedung; penyelamatan diri dari ancaman bencana; mencari tempat berlindung yang aman dari ancaman bencana; berkumpul dan berlindung di lokasi aman; evakuasi ke tempat aman; dan proses aman penyatuan kembali keluarga.
          Contoh prosedur tetap kedaruratan sekolah sebelum kejadian gempa bumi. Pertama, saat merasakan terjadi gempa, semua harus berlindung. Setelah guncangan gempa berhenti, kepala sekolah/ tim peringatan diri membunyikan tanda sirine/ kentongan sebagai pertanda semua harus segera evakuasi. Kedua, semua merasakan ada goncangan gempa, semua harus berlindung, bisa di bawah meja, bisa dengan bersimpuh-berlindung, bertahan hingga mendengarkan bunyi tanda evakuasi, baru semua bisa segera melakukan evakuasi dengan tertib. Dan terakhir, ketiga, yaitu setelah semua evakuasi di titik kumpul aman, semua termasuk guru dan tim siaga melakukan pendataan hendaknya memilih siswa yang terluka dan mengobatinya.
3.4    Hambatan-Hambatan Dalam Pelaksanaan Kesiapsiagaan Terhadap Bencana Gempa Bumi di Lingkungan Sekolah
Adapun yang menjadi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di lingkungan sekolah adalah sebagai berikut.
1.    Mengalami hambatan dalam memahami teknik penyelamatan diri dan pertolongan pertama pada korban bencana gempa bumi.
2.    Koordinasi  antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ada tetapi implementasinya belum.
3.    Kapasitas siswa dan guru di sekolah masih kurang terhadap pemahaman tentang bencana gempa bumi.
4.    Pelaksanaan pembelajaran tentang bencana gempa bumi mengalami kendala, seperti waktu pelaksanaan pembelajaran, kehadiran siswa di kelas, kemampuan siswa dalam membaca dan menulis, dan kemampuan guru dalam mentransformasikan pelatihan.
IV.     SIMPULAN DAN SARAN
4.1    Simpulan
          Dengan adanya pelatihan kesiapsiagaan dinilai sangat bermanfaat bagi peserta. Bukan saja yang diperoleh sebatas pengetahuan teori tetapi juga praktik mengenai resiko bencana gempa bumi. Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab dari setiap peserta pelatihan. Karena memiliki dampak yang positif maka dianggap perlu untuk sering diadakan kegiatan serupa pada tahun-tahun berikutnya.
  
4.2          Saran
          Pada prinsipnya, rencana kesiapsiagaan terhadap gempa  bumi terutama pada gedung sekolah perlu diperiksa ketahanannya. Sebaiknya, sekolah dibangun berdasarkan standar bangunan tahan gempa. Para siswa dan siswi sekolah perlu sering dilatih untuk melakukan tindakan penyelamatan diri bila terjadi gempa, misalnya sekurangkurangnya 2 kali dalam setahun.
          Agar siswa/ siswi dan guru guru melatih diri secara kontinu dan berkelanjutan supaya kesadaran akan bencana dan penyelamatan diri agar dipahami benar-benar pada diri mereka. Jadi, dalam menghadapi bencana gempa bumi, khususnya di sekolah sebaiknya lebih tanggap, tangkas, dantangguh.
DAFTAR PUSTAKA
Supartini, Eny. 2017. Buku Pedoman Latihan Kesiapsiagaan Bencana:    Membangun Kesadaran, Kewaspadaan, dan Kesiapsiagaan Dalam   Menghadapi Bencana. Jakarta. Direktorat Kesiapsiagaan Deputi           Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana        (BNPB).
Lasmana, Ujang Dede. 2013. Survival: Teknik Bertahan  Hidup Disaat dan       Pasca Bencana. Padang: Mercy Corps.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 1 Angka 7 Tentang          Penanggulangan Bencana).
Nurjanah, dkk. 2012. Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta.
Sumber internet:
          (UNESCO/ISDR-LIPI. Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat Mengantisipasi   Bencana Alam.2006)

Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber belajar Biologi

Mulya Manru, M.Pd (Guru Biologi)
Sebagaimana yang telah kita maklumi  bahwa guru memiliki peranan yang sangat menentukan pada keberhasilan pembelajaran anak didik. Seorang guru yang profesional mampu mendayagunakan seluruh potensi yang ada untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mendorong siswa lebih aktif mendapatkan pengetahuan dengan mengkontruksi pengetahuan sendiri melalui interaksi dirinya dengan sumber belajar. 
Salah satu sumber belajar yang sering terabaikan oleh guru-guru termasuk dalam hal ini guru-guru biologi adalah pemanfaatan seoptimal mungkin lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah di sini adalah pekarangan sekolah sebgai suatu ekosistem atau ekosistem disekitar sekolah sebagai sumber belajar potensial dan efektif dalam membangun pengetahuan, sikap ataupun keterampilan anak didik sebagai wadah pengembangan life skill mereka.
Pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan lingkungan sekolah atau potensi- potensi di sekitar sekolah akan lebih mengefektifkan pendekatan pembelajaran yang telah dikenal guru saat ini..  Pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar sesungguh bisa terjadi dengan beberapa pendekatan,  umpamanya  belajar interaksi antar organisme di kebun sekolah merupakan contoh pembelajaran dengan pendekatan lingkungan.  Seorang guru biologi memulai pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada suatu masalah di lingkungan sekolah, umpamanya bunga di pekarangan tidak tumbuh dengan subur, lalu siswa dibimbing untuk mendapatkan jawaban secara mandiri atau berkelompok tentang permasalahan tersebut adalah sebuah contoh pembelajaran dengan pendekatan berbasis masalah (Problem Based Learning). 
Pembelajaran berbasis masalah membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir dan pemecahan masalah, karena siswa  belajar menjadi orang dewasa dengan melibatan mereka dalam suasana nyata, sehingga mereka menjadi lebih mandiri. Pembelajaran berbasis masalah mengkondisikan siswa dalam penyelidikan secara mandiri atau terbimbing, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahaman tentang penomena itu
Bila permasalahan diapresiasi dengan penelitian mengikuti kerangka berfikir ilmiah maka hal tersebut adalah Inquiry-Discoveri yang akan membangun keterampilan proses siswa mulai dari tindakan observasi, prediksi dan membuat hipotesis, mengidentifikasi variable, melakukan penelitian dengan menggunakan alat dan bahan percobaan, mengontrol variable, mengumpulkan data, mengorganisasi dan memaknai data, membuat laporan penelitian  dan mampu mengkomunikasikan kepada orang lain.
Belajar reproduksi tumbuhan melalui praktek pembibitan dengan melibatkan nara sumber dari luar misalnya dari balai benih disekitar sekolah dengan pemanfaatan teknologi sederhana yang ada di tengah masyarakat adalah  contoh pendekatan Sains tekhlogi masyarakat (STM).  
Bila pembelajaran dirancang dengan mengedepan pertimbangan kekhasan daerah dan lingkungan nyata siswa dengan langkah-langkah Kontruktives, inquiry, bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), Refleksi, permodelan dan mengggunakan authentic assesment  adalah  cerminan dari pendekatan kontekstual telah terlaksana pada pembelajaran tersebut.
Pembelajaran Biologi  di pekarangan atau lingkungan  sekitar sekolah  memungkinkan siswa belajar lebih leluasa melibatkan seluruh potensia indra, emosi  dan organ motoriknya karena pembelajaran terasa lebih nyata sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami. 
Hamalik (2003) menyatakan bahwa pembelajaran modern lebih dititik beratkan pada aktivitas sejati. Aktivitas sebagai asas pembelajaran memiliki manfaat:
1) Siswa mencari pengalaman sendiri dengan langsung mengalami sendiri
2) Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa
3) Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa yang pada gilirannya dapat       memperlancar kerja kelompok
4) Memupuk disiplin belahar dan suasana belajar yang demokratis, kekeluargaan, musyawarah dan mupakat
5) Membina dan memupuk kerjasama antar sekolah dan masyarakat dan hubungan antar guru dan orang tua siswa yang bermanfaat dalam pendidikan siswa
6) Pembelajaran dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta menghindari terjadinya verbalisme
7) Pembelajaran dengan kegiatan belajar menjadi lebih hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat yang penuh dinamika.
Nasution (1985) mengatakan bahwa benda-benda nyata memberikan kesempatan siswa melihat sendiri secara langsung dan sekaligus dapat mengembangkan keterampilan psikomotor, serta memudahkan siswa dalam perkembangan mental dan memperluas tanggapan-tanggapannya, sehingga dengan demikia kedekatan anak kepada pelajaran bertambah. Pembelajaran di lingkungan asli sekitar sekolah mampu  memperluas dan memperdalam konsep yang diajarkan guru, karena siswa  menggunakan contoh yang akurat dan penomena yang real terjadi. Menurut ahli pendidikan penguasaan belajar dari berbagai modus pembelajaran adalah: 10% dari membaca, 20% dari mendengar, 30% dari melihat, 50% dari melihat dan mendengar, 70% dari mengatakan dan 90% dari mengatakan dan melakukan. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran akan efektif kalau siswa terlibat fisik dan emosional dengan kegiatan pembelajaran serta mendiskusikan secara aktif dalam kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan seluruh siswa terlibat berinteraksi secara aktif (Cooperatif Learning).
Pembelajaran Biologi umumnya lebih efektif jika  berlangsung di pekarangan atau lingkungan sekolah dan atau lingkungan sekitar sekolah. Akan lebih lebih bermakna jika siswa dibimbing menbina sebuah ekosistem mini dengan membangun kebun sekolah, apotik hidup atau kolom ikan. Pembelajaran tentang pencemaran lingkungan lebih bermakna jika siswa dibimbing mempraktekkan teknik pengolahan sampah atau kompos. Praktikum reproduksi tumbuhan akan lebih berharga jika diarahkan pada usaha penghijauan sekolah atau lingkungan sekitar sekolah.
Pembelajaran yang konstruktif seperti diatas akan mematri life skill siswa lebih mendalam, karena dari pembelajarn yang bermakna dan kontruktif tersebut akan memudahkan guru memberikan kasadaran diri (self awareness) akan potensi diri dan kedudukan pribadi di sisi Allah SWT dan di tengah masyarakat. Kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan vocasional sebagai bagian dari life skill akan lebih mudah dibangun dan diperkuat.

Guru Zaman Now

Mulya Manru, M.Pd (Guru Biologi)
Sesuai dengan Undang-Undang  no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.  Selanjutnya pada pasal 20 undang-undang  tersebut menyatakan secara gamblang bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya setiap guru berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
Pembelajaran di Kelas  sebagai bagian dari system pendidikan nasional di sekolah mempunyai tujuan pembelajaran yang  mengarah pada proses penciptaan perkembangan peserta didik yang unggul dan berqualitas. Pengembangan pendidikan  merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan desentralisasi. Perkembangan itu bertujuan agar program pembelajaran relevan dengan lingkungan  siswa, sehingga mereka  mampu memupuk keimanan dan ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa, memberikan kecakapan hidup, menguasai prinsip-prinsip alam, bersikap ilmiah serta mempunyai kepribadian Indonesia dan berakhlak mulia
Oleh karena begitu luas dan bermanfaatnya pembelajaran di kelas  dalam mengembangkan diri siswa, maka guru harus mampu mengkontruksi proses pembelajaran siswa secara efektif dan efisien.  Pembelajaran yang efektif dan efisien adalah pembelajaran yang mampu menstimuli siswa belajar secara optimal dengan kondisi yang ada di sekolah atau kondisi yang disetting guru dari potensi yang ada di sekolah.
Inovasi Pembelajaran
Proses pembelajaran adalah bagian penting dari proses pendidikan dimana pada proses belajar mengajar guru atau orang dewasa memberikan pengaruh kepada peserta didik untuk mengkontruksi pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi dirinya sendiri. Menurut Slameto  belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara kesuluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
Perubahan yang terjadi pada proses pembelajaran mempunyai sifat-sifat sebagai barikut:1) Terjadi secara sadar2) Bersifat berkesinambungan  3) Bersifat positif 4) Bersifat kekal 5) Bertujuan dan terarah  6) Mencakup seluruh aspek tingkah laku meliputi perubahan pada pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Menurut Hamalik  bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman ( Learning is definied as the modification or strengthening of behavior throught experiencing). Karena belajar itu memperteguh kelakuan melalui penglaman maka proses belajar bukan sekedar mendengar atau mengamati guru menyajikan materi pembelajaran, akan tetapi siswa harus mempunyai peran dalam pembelajaran sehingga peran itu menjadi pengalaman baginya. Aktifnya siswa mengambil peran dalam pembelajaran disebut juga dengan caara belajar siswa aktif ( CBSA) dimana  siswa dalam belajar melibatkan faktor fisik dan psikis. Faktor fisik dapat berupa kegiatan membaca, menulis, memperagakan, mempresentasikan, mengukur dll. Sedangkan psikis antara lain mengingat kembali isi pelajaran yang dipelajari sebelumnya, menggunakan konsep pengetahuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen dll. Seluruh kegiatan yang diikuti siswa harus menjamin adanya keterlibatan intelektual- emosional.
Dalam  suatu  Inovasi  terjadi proses penciptaan sesuatu yang baru. Sebuah produk inovatif dapat terjadi melalui pengkreasian sesuatu yang telah ada atau yang lama dengan asesoris atau bagian yang baru sehingga sesuatu tersebut menjadi lebih menarik, lebih berharga dan lebih tepat guna. Produk  Inovatif bisa juga sesuatu yang baru sama sekali dimana produk  tersebut belum pernah ada sebelumnya.
Inovasi pembelajaran dapat diartikan sebagai sebuah atau beberapa gagasan yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Melalui Inovasi Pembelajaran guru menemukan teknik, metode, Pendekatan, model pembelajaran atau evaluasi pembelajaran sehingga melalui hal tersebut pembelajaran lebih menarik, lebih membawa siswa ke suasana pembelajaran.  Suasana pembelajaran yang menarik dan nyaman akan membuat pembelajaran menjadi hangat, siswa menjadi aktif, komunikasi antara siswa dengan guru, sesama siswa dan dengan sumber belajar menjadi lebih luwes dan efektif.
Menurut Suyatno   pembelajaran inovatif diyakini mampu memfasilitasi siswa lebih mengembangkan kecakapan hidup (life skill) sehingga lebih siap terjun dan berinteraksi di tengah- tengah masyarakat. Prinsif-Prinsif Pembelajaran Inovatif: 1)Pembelajaran, bukan pengajaran 2).  Guru sebagai fasilitator, bukan instruktur 3). Siswa sebagai subjek, bukan objek 4). Multimed, bukan monomedia 5). Sentuhan manusiawi, bukan hewani 6). Pembelajaran Induktif, bukan deduktif 7). Materi bermakna bagi siswa, bukan sekedar dihapal 8). Keterlibtan siswa partisifatif, bukan pasif.
Inovasi pembelajaran bisa terjadi jika guru guru khususnya guru zaman now bisa lebih aktif dan kreatif melalui kajian literatur dari berbagai sumber yang terkini, diskusi  atau lesson study dengan teman sejawat atau nara sumber dari berbagai bidang ilmu yang relevan dengan dunia pendidikn serta  melaui penelitian-penelitian tindakan kelas atau eksperimen di kelas kelas yang mereka kelola setiap hari. Melalui usaha usaha ini dan di dukung oleh perkembangan teknomlogi maka besar harapan kita akan muncul inovasi inovasi pembelajaran zaman now ini.
Guru yang mampu mengembangkan metode, pendekatan maupun model pembelajaran  baru   akan lebih mendapat apresiasi dari siswa, karena siswa sebagai remaja mempunyai kescendrungan mencoba, melakukan hal-hal baru termasuk cara, metode, pendekatan pembelajaran yang berbeda dari biasanya mereka ikuti, artinya guru dengn merode yang lebih kreatif dan inovatif akan mendapatkan motinasi belajar siswa lebih baik
Pembelajaran dengan ICT
Di zaman perkembangan teknologi komunikasi (ICT) saat ini banyak  dimensi dalam bidang pendidikan yang memanfaatkan hal terebut, misalnya administrasi kepegawaian guru tenaga kpendidkanlainnya, peningkatan jenjang karier dan profesionalisme guru, dan hal lain yang berbasis ICT (serba online).  Keseharian kerja guru juga sudah secara bertahap meninggalkan kegiatan berbasis kertas.  Hal penting lainnya adalah  inovasi pembelajaran mendapatkan kesempatan yang baik melaui teknologi imformasi (ICT), Inovasi pembelajaran modern akan lebih berkembang dan semaikin menarik. Pembelajaran virtual misalnya akan  memberi guru yang inovatif dan kreatif bahan ide untuk berkreasi dan  berinovasi. Hal ini terjadi karena sumber belajar dan materi- materi kreasi lebih mudah didapatkan.
Melalui pembelajaran berbasis ICT guru dapat berinovasi dalam bentuk 1) membuat  media belajar  dalam bentuk multi media misalnya animasi dan simulasi (virtual) , 2) pembelajaran interaktif  video call,  3) Ujian Online,  4) PR/ tugas Online  5) e-Rapor dan lain-lain.
Pembelajaran virtual merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan penggunaan komputer, internet pada proses pembelajaran.  Pada pembelajaran virtual sumber- sumber belajar dalam bentuk video, animasi, gambar dan simulasi lebih mudah diintegrasikan dalam sebuah tampilan yang dapat menjelaskan suatu gejala, situasi, struktur yang memberi pengertian pengatahuan. Pembelajaran ini sumber pembelajaran lebih komperhensif  dan memberi ruang untuk siswa dan guru mengembangkan kreasi materi dan suasana pembelajarannya sehingga pembelajaran lebih menarik dan bermakna. Dari pembelajaran yang menarik dan bermakna diharapkan output lebih literat dan bermakna (meaningful)
Untuk mendapatkan guru guru yang mau dan mampu berinovasi dalam pembelajaran, khususnya dalam teknologi ICT virtual tentulah tidak mudah. Kondisi ini membutuhkan basic pengetahuan dan keterampilan guru yang mendukung. Disamping itu perlu didukung juga oleh ketersediaan sarana dan pra sarana  ICT, Sambungan internet serta sumber energi listrik di sekolah- sekolah.  Kenyataan saat ini masih banyak sekolah-sekolah terutama di daerah-daerah terpencil masih jauh dari harapan. Oleh karena itu diharapkan pemerintah dapat memperioritaskan penyediaannya secara bertahap ke seluruh pelosok negeri.
Kepada perusahaan- perusahan besar diharapkan ikut serta membantu pemerintah menyokong penyediaan sarana parasarana pendidikan di kawasan konsesinya melalui peningkatan dana CSR yang tersedia.
Simpulan
Sebagai agen pendidikan guru dituntut profesionalismenya dalam menjalankan tugas pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Profesional tersebut diantaranya mampu mendesain pembelajaran yang mampu memotivasi siswanya dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Desain itu dalam bentuk metode, pendekatan, model dan strategi belajar yang efektif dan efisien yang sesuai dengan karakteristik pelajaran masing- masing.
Sebagai generasi guru yang hidup di zaman millenial ini maka guru saat ini dituntut untuk mampu berinovasi dalam kelas- kelas mereka di sekolah masing- masing. Inovasi tersebut baik bentuk pembeharuan pada metode, pendekatan, model dan strategi pembelajaran, maupun dalam bentuk tampilan materi atau alat bantu/ media pembelajaran.
Inovasi pembelajaran akan lebih maju jika di dukung oleh teknologi komunikasi atau ICT, karena  teknologi ini menyediakan kesempatan guru dan siswa untuk mendapatkan sumber materi pembelajaran serta susunan dan bentuk tampilan materi yang lebih menarik, lengkap dan mudah dimengerti oleh siswa.
Kepada pemerintah dan dunia usaha diharapkan dapat mempercepat penyediaan sarana- prasarana yang memungkin guru dan siswa bisa berinovasi dalam pembelajaran mereka yang pada ujungnya memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran dan Pendidikan anak bangsa.

PERLINDUNGAN PROFESI GURU

Add caption

Oleh 

Mulya Manru, M.Pd
Wakil Kepala Bidang Sarana Prasarana 


Pendahuluan

            Profesi guru merupakan salah satu bidang pekerjaan yang mulia dalam mempersiapkan  dan mendidik karakter generasi muda bangsa sebagai cerminan negara di masa depan. Seperti apa dan mau dibawa ke mana negara ini bergantung pada  kualitas  dan  karakter  anak-anak  bangsa kita. Inilah yang  menjadi tugas dan tanggug  jawab yang  diemban  oleh  sosok  guru.  Mempersiapkan dan mendidik membutuhkan suatu proses, waktu, dan manajemen yang tepat.
Di era modern ini, marwah guru di mata masyarakat sudah bisa dikatakan sangatlah menurun dibandingkan marwah guru di masa lampau. Di masa dulu, guru dianggap sebagai pahlawan bangsa dan dielu-elukan keberadaannya. Namun pada masa kini, guru dianggap sebagai suatu pekerjaan rendahan dan dipandang sebelah mata. Dulu, kalau guru memukuli siswanya karena tidak mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dan mengadu  ke  orangtua  malah  tambah dijewer. Masalahnya, apakah hanya dengan alasan yang demikian guru pantas dijadikan sebagai pelaku kriminal dan pelanggaran HAM yang lantas diadukan ke kepolisian dan dibui? Jika ini terjadi berarti, guru seolah-olah jadi gampang didikte, dibatasi, dan dikerangkeng keguruannya. Padahal semua guru menginginkan  agar  siswanya  bisa  menjadi  anak yang pintar, cerdas, dan berkarakter.Tetapi, menurut penulis. Pertama,  perlu  ditempuh   dan dilakukan dengan cara-cara kekeluargaan. Guru, kepala sekolah, dan orang tua siswa terlebih dahulu berembuk dan mencari jalan keluar yang terbaik.
Kedua, semua pihak perlu  menelusuri proses  terjadinya  kejadian  mulai  dari awal  hingga terjadinya kejadian. Cari akar masalahnya. Supaya masalah menjadi terang  benderang.  Ketiga,  orang  tua  siswa  harus  mengetahui  bahwa  pendidikan acapkali tidak akan terjadi kalau semua persoalan dilimpahkan kepada guru. Orang tua  yang  sesungguhnya  lebih  banyak  berperan.  Dan  yang  paling  penting  tidak menunjukkan arogansi yang berlebihan hingga sampai-sampai membui si guru dan memenjarakannya karena masalah-masalah sepele yang sejatinya bisa diselesaikan.
Keempat, sekolah  harus  menjalin  komunikasi  yang  intens  antara  orang  tua siswa dan sekolah. Perlu diadakan pertemuan rutin antara kedua belah pihak.  Kelima, tentu guru juga bukan “dewa” yang selalu benar, baik, dan tahu dalam segala hal. Untuk itu, guru juga harus berbenah dan intropeksi diri dan mau belajar dalam meningkatkan  kapasitas,  dan  kompetensinya  sebagai  guru  yang  profesional  yang patut ditiru, digugu, dan diteladani.
Perlindungan terhadap profesi guru ada empat bentuk menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen . Yang pertama, bentuk perlindungan yang diberikan kepada  guru  dalam  melaksanakan  tugas  keprofesionalannya  adalah  perlindungan hukum.   Mencakup   perlindungan   hukum   terhadap   tindak   kekerasan,   ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak siswa, orang tua  siswa,  masyarakat,  birokrasi,  atau  pihak  lain.  Cara  penyelesaiannya  dapat ditempuh  dengang  cara  konsultasi,  mediasi,  negosiasi  dan  perdamaian,  konsiliasi dan  perdamaian,  advokasi  litigasi  atau  nonlitigasi.  Kemudian,  kedua,  perlindungan profesi  bagi  guru.  Mencakup  perlindungan  terhadap pemutusan  hubungan  kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidakwajar,pembatasandalam  menyampaikan  pandangan,  pelecehan  terhadap profesi,  dan  pembatasan/  pelarangan  lain  yang  dapat menghambat  guru  dalam melaksanakan tugas. Selanjutnya, ketiga, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Mencakup perlindungan terhadap resiko gangguan   keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana  alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/ atau risiko lain. Terakhir, keempat, perlindungan HAKI (Hak Atas  Kekayaan  Intelektual)  adalah  pengakuan  atas  kekayaan  intelektual  sebagai karya  atau  prestasi  yang  dicapai  oleh  guru. 
Jadi, dari pemaparan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa  harga diri dan martabat guru menjadi harga mati yang perlu dilindungi dan dijaga dengan baik di manapun dia berada. Dalam PP Nomor 74 Tahun 2008, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,  melatih, menilai, dan  mengevaluasi  siswanya  maka  guru  tidak  bisa dipidanakan  saat  menjalankan  profesinya dan melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswanya. Ingat  bahwa mereka menjadi  orang  hebat  karena  siapa?  Karena  guru.  Di  Jepang dan negara jiran kita, Malaysia, profesi guru sangat-sangatlah dimuliakan.
Pentingnya Perlindungan Guru
            Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan,  pemberian imbalan yang tidak wajar, pelecehan terhadap profesi serta pembatasan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.
            Perlindungan profesi guru sangat penting agar proses pendidikan menjadi baik dan guru menjalankan tugasnya dengan profesional maka diperlukan peran pemerintah baik pusat maupun daerah serta masyarakat demi mewujudkan guru yang mempunyai martabat dan terlindungi oleh hukum dalam menjalankan profesinya agar tercipta pencapaian kualitas yang maksimal, hal ini sesuai dengan amanah UU Sisdiknas. Maka harus ada regulasi yang mengatur tentang itu, salah satunya dengan membuat UU tentang perlindungan terhadap profesi pendidik yang substansinya adalah agar guru dalam menjalankan profesinya terlindungi dengan kekuatan hukum dan harus ada pemahaman yang utuh bahwa dalam menjalani proses pendidikan. Guru diberi hak otoritas dalam mendidik peserta didik, jika perlu ada fit and proper test untuk menjadi seorang guru, agar dunia pendidikan tidak lagi disibukan dengan ulah guru yang tidak mengerti esensi dalam mendidik. Secara yuridis, UU Perlindungan Guru telah termuat dalam UU No 14/ 2005. Hal ini terlihat jelas pada Bab VII pasal 39 yang menyebutkan bahwa pemerintah, masyarakat, organisasi profesi, dan/ atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Adapun maksud perlindungan profesi yang diamanatkan dalam UU No. 14/ 2005 tentang guru adalah perlindungan terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan,  pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan/ pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugasnya.          Sementara perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kesehatan, dan/atau resiko lainnya. Berangkat dari paparan di atas, terlihat bahwa eksistensi UU No 14/2005 telah memuat perlindungan terhadap guru atas profesinya. Namun, implementasi terhadap UU tersebut masih belum terlaksana. UU tersebut lebih banyak disoroti sebagai kekuatan hukum atas peningkatan kesejahteraan guru/dosen, sementara  perlindungan terhadap profesi guru/dosen seringkali lepas dari perhatian. Kita tidak menutup mata terhadap tindakan oknum guru yang kurang mendidik dengan memberikan hukuman di luar nilai pendidikan. Mereka meletakkan peserta didiknya sebagai penjahat yang harus dihabisi, bukan sosok yang perlu dibimbing dan diperbaiki. Demikian pula sikap orang tua/ masyarakat yang mulai mengalami pergeseran dalam memandang profesi guru. Mereka terlalu  banyak menuntut guru agar dapat mengahntarkan peserta didik sebagai masyarakat terdidik, namun tidak seiring dengan penghargaan dan perlindungan yang diberikan.
            Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan guru dalam menghadapi murid yang bersalah, sebelum mereka menetapkan hukuman, yaitu; Pertama,  perlu memberikan laporan kepada orang tua murid perihal prilaku anak mereka dengan cara pemanggilan secara langsung. Tahapan ini dilakukan sebanyak 2 kali dengan ikut melibatkan guru BK. Kedua, bila selama 2 kali pemanggilan tidak menunjukan perubahan dan kerjasama yang baik, seorang guru bisa memberikan hukuman dengan syarat : (1). Hukuman tidak pada tempat yang vital. (2) hukuman dilakukan dalam bentuk yang mendidik. (3) hukuman dilaksanakan secara adil dan ikut mempertimbangkan aspek psikologis peserta didik. Bila UU No 20/2003 menuntut pencapaian kualitas yang maksimal, menuntut pendidik menjadi profesional, seyogyanya diiringi dengan adanya UU Profesi Pendidik. Meskipun dalam UU No 14/2005 secara tegas telah melindungi  profesi guru dan dosen, namun dalam dataran implementasi kekuatan UU tersebut masih tak terlihat berkontribusi terhadap nasib guru/ dosen sebagai tenaga  pendidik. Untuk itu, sudah pada saat dan tempatnya jika guru/ dosen membangun kekuatan solidaritas untuk mendorong pemerintah memperbaiki kondisi kerja guru dan melindungi profesi mereka dengan kekuatan hukum yang jelas.
            Sebagai sebuah profesi, dalam  bekerja guru memerlukan jaminan dan perlindungan perundang-undangan dan tata aturan yang pasti. Hal ini sangat penting agar mereka selain memperoleh rasa aman, juga memiliki kejelasan tentang hak dan kewajibannya, apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, serta apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan  pihak lain kepada mereka, baik sebagai manusia, pendidik, dan pekerja. Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara keseluruhan pada dasarnya merupakan jaminan dan perlindungan bagi guru dan dosen dalam menjalankan profesinya.
            Secara eksplisit dan khusus, perlindungan  bagi guru yang dimaksud di atas termaktub dalam pasal 39. Dalam pasal 39 Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan: (1) Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam  pelaksanaan tugas. (2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. (3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup  perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. (4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup  perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan  peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi, dan  pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas. (5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/ atau risiko lain. Frasa perlindungan hukum yang dimaksudkan di sini mencakup semua dimensi yang terkait dengan upaya mewujudkan kepastian hukum, kesehatan, keamanan, dan kenyamanan bagi guru dalam menjalankan tugas-tugas  profesionalnya.
            Semua guru harus dilindungi secara hukum dari segala anomali atau tindakan semena-mena dari yang mungkin atau berpotensi menimpanya dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Perlindungan hukum dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan dari peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain, berupa: (a) tindak kekerasan; (b) ancaman, baik fisik maupun psikologis; (c) perlakuan diskriminatif; (d) intimidasi; dan (e) perlakuan tidak adil.
            Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap pemutusan hukubungan kerja (PHK) yang tidak sesuai dengan peraturan  perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam  penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan pembatasan/ pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.
            Secara rinci, subranah perlindungan profesi dijelaskan berikut ini. (a). Penugasan guru pada satuan pendidikan harus sesuai dengan bidang keahlian, minat, dan bakatnya. ( b). Penetapan salah atau benarnya tindakan guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional dilakukan dengan mempertimbangkan pendapat Dewan Kehormatan Guru Indonesia. (c) Penempatan dan penugasan guru didasari atas perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. (d). Pemberian sanksi pemutusan hubungan kerja bagi guru harus mengikuti  prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan atau perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. (e). Penyelenggara atau kepala satuan pendidikan formal wajib melindungi guru dari praktik pembayaran imbalan yang tidak wajar. Kemudian, (f). Setiap guru memiliki kebebasan akademik untuk menyampaikan  pandangan. (g). Setiap guru memiliki kebebasan untuk: (1) mengungkapkan ekspresi; (2) mengembangkan kreatifitas; dan (3) melakukan inovasi baru yang memiliki nilai tambah tinggi dalam proses pendidikan dan pembelajaran. (h). Setiap guru harus terbebas dari tindakan pelecehan atas profesinya dari  peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. (i). Setiap guru yang bertugas di daerah konflik harus terbebas dari pelbagai ancaman, tekanan, dan rasa tidak aman. ( j). Kebebasan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik, meliputi: (1) substansi; (2) prosedur; (3) instrumen penilaian; dan(4) keputusan akhir dalam penilaian. (k). Ikut menentukan kelulusan peserta didik, meliputi: (1) penetapan taraf  penguasaan kompetensi; (2) standar kelulusan mata pelajaran atau mata  pelatihan; dan (3) menentukan kelulusan ujian keterampilan atau kecakapan khusus.
            Kebebasan untuk berserikat dalam organisasi atau asosiasi profesi, meliputi: mengeluarkan pendapat secara lisan atau tulisan atas dasar keyakinan akademik, memilih dan dipilih sebagai pengurus organisasi atau asosiasi profesi guru, dan bersikap kritis dan obyektif terhadap organisasi profesi. Kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan formal, meliputi: akses terhadap sumber informasi kebijakan; partisipasi dalam  pengambilan kebijakan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan formal, dan memberikan masukan dalam penentuan kebijakan pada tingkat yang lebih tinggi atas dasar pengalaman terpetik dari lapangan. 
            Perlindungan terhadap resiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau resiko lain. Beberapa hal krusial yang terkait dengan  perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk rasa aman bagi guru dalam bertugas, yaitu: a). Hak memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas harus mampu diwujudkan oleh pengelola satuan pendidikan formal, pemerintah dan pemerintah daerah. b).. Rasa aman dalam melaksanakan tugas, meliputi jaminan dari ancaman  psikis dan fisik dari peserta didik, orang tua/wali peserta didik, atasan langsung, teman sejawat, dan masyarakat luas. c). Keselamatan dalam melaksanakan tugas, meliputi perlindungan terhadap: risiko gangguan keamanan kerja; risiko kecelakaan kerja; risiko kebakaran pada waktu kerja; risiko bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau risiko lain sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai ketenagakerjaan.
            Lalu, d). Terbebas dari tindakan resiko gangguan keamanan kerja dari peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. e). Pemberian asuransi dan/atau jaminan pemulihan kesehatan yang ditimbulkan akibat: kecelakaan kerja; kebakaran pada waktu kerja; bencana alam; kesehatan lingkungan kerja, dan/atau resiko lain. d) Terbebas dari multiancaman, termasuk ancaman terhadap kesehatan kerja, akibat  bahaya yang potensial, kecelakaan akibat bahan kerja, keluhan-keluhan sebagai dampak ancaman bahaya, frekuensi penyakit yang muncul akibat kerja, risiko atas alat kerja yang dipakai, dan risiko yang muncul akibat lingkungan atau kondisi tempat kerja.
            Perlindungan hukum terhadap guru diwujudkan dengan menyerahkan guru yang diadukan atau diinformasikan menyimpang kepada dewan kehormatan organisasi profesi guru terlebih dahulu. Jika terdapat unsur-unsur pidana, organisasi profesi guru itu meneruskan laporan ke penyidik sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Beberapa kenyataan yang dihadapi guru, sebagai bukti bahwa mereka  belum sepenuhnya memperoleh perlindungan profesi yang wajar: a). Penugasan guru yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya.  b).Pengangkatan guru, khususnya guru bukan PNS untuk sebagian besar  belum didasari atas perjanjian kerja atau kesepakatan kerjasama. c). Pembinaan dan pengembangan profesi serta pembinaan dan  pengembangan karir guru yang belum sepenuhnya terjamin. d). Adanya pembatasan dan penyumbatan atas aspirasi guru untuk memperjuangkan kemajuan pendidikan secara akademik dan profesional. e).Pembayaran gaji atau honorariurn guru yang tidak wajar. f). Arogansi oknum pemerintahan, masyarakat, orang tua, dan siswa terhadap guru.
            Seterusnya, g) Mutasi guru secara tidak adil dan atau semena-mena. h).Pengenaan tindakan disiplin terhadap guru karena berbeda pandangan dengan kepala sekolahnya. i).Guru yang menjadi korban karena bertugas di wilayah konflik atau di tempat (sekolah) yang rusak. Berdasarkan permasalahan guru yang terjadi, Direktorat Profesi Pendidik  bekerjasama dengan LKBH-PGRI Pusat dan Cabang LKBH-PGRI melakukan  beberapa upaya untuk keperluan sosialisasi, konsultasi, advokasi, mediasi, dan/atau bantuan hukum kepada guru. Dengan adanya Subsidi Perlindungan Hukum bagi guru/ blockgrant untuk LKBH PGRI diharapkan: j) Bertindak aktif memberikan perlindungan hukum bagi guru, baik diminta maupun tidak diminta. h). Melaksanakan tugas perlindungan hukum sesuai dengan akad kerjasama. i). Menyebarluaskan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban guru. j)  Memberi nasihat kepada guru yang membutuhkan. e). Bekerjasama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan  perlindungan guru. f). Membantu guru dalam memperjuangkan haknya termasuk menerima keluhan atau pengaduan guru.
            Beberapa kepengurusan PGRI di daerah sudah mulai membentuk LKBH-PGRI ini dan melaksanakan aktivitas perlindungan bagi guru dalam profesinya, khususnya mengenai perlindungan hukum bagi guru. Hak asasi manusia, termasuk hak-hak guru, merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng. Oleh karena itu, hak-hak manusia, termasuk hak-hak guru harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun. Di samping itu, perlindungan hukum bagi guru menjadi sangat signifikan agar guru dapat menjalankan perannya tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Hal ini memberi  pengertian bahwa perlindungan guru dalam profesinya memerlukan upaya dan  perjuangan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan.
Kesimpulan
            Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen secara keseluruhan pada dasarnya merupakan jaminan dan perlindungan bagi guru dan dosen dalam menjalankan profesinya. Perlindungan bagi guru termaktub dalam pasal 39, meliputi perlindungan hukum, perlindungan  profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Undang-undang ini telah merumuskan lingkup perlindungan terhadap guru namun secara yuridis-normatif konsep perlindungan tersebut mengandung kelemahan, belumlah konkrit, tuntas, dan operasional atau aplikatif.