Pengumuman Kenaikan Kelas SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2019/2020

Pengumuman Kenaikan Kelas secara lengkap dapat di download pada link berikut ini:

Pengumuman Kenaikan Kelas SMAN PLUS PROVINSI RIAU Tahun Ajaran 2019/2020

Pengumuman Kelulusan Siswa Kelas XII SMAN Plus Provinsi Riau Tahun Ajaran 2019/2020

Siswi SMAN Plus Provinsi Riau menjadi Pengibar Bendera di Kantor Wali Kota Pekanbaru

Siswi SMA Negeri Plus Provinsi Riau atas nama  Lathifah Khairunnisa terpilih menjadi pembawa baki Pasukan Pengibar Bendera (paskibra) pada peringatan hari kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2019 di kantor Wali Kota Pekanbaru yang baru yaitu di Komplek Perkantoran Pemerintah Kota Pekanbaru Kecamatan Tenayan Raya. Lathifah Khairunissa adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Amrinaldi, S.Sos dan bu Mira Yulia, S.Pd yang juga merupakan guru Bahasa Inggris SMA Negeri 10 Pekanbaru.
Lathifah Khairunnisa sangat bangga dengan prestasi yang diperolehnya, karena pada tahun 2019 ini hanya dialah yang terpilih sebagai anggota pasukan pengibar bendera (Paskibra) untuk tingkat Kota Pekanbaru. Begitu juga kedua orang tuanya “ Kami merasa senang dan bangga atas terpilihnya anak kami sebagai anggota pasukan pengibar bendera (paskibra) tingkat kota Pekanbaru. Mudah mudahan menjadi motivasi dan sekaligus modal masa depan anak kami dan juga dapat menjadi inspirasi bagi adik adik tingkatnya di SMA Negeri Plus Provinsi Riau ”, ujar mereka ketika di konfirmasi kepada kedua orang tuanya. 
Cerita tentang terpilihnya Tifa menjadi anggota pasukan pengibar bendera (paskibra) merupakan cerita yang sangat menarik untuk diikuti. Tifa mengikuti seleksi awal menjadi calon paskibra dimulai dari bulan Februari 2019, yaitu Seleksi administrasi. Peserta yg ikut mendaftar dari SMA Negeri Plus Provinsi Riau sebanyak  8 org siswa dimana setiap tahapan seleksi menggunakan sistem gugur. 
Adapun tes yang harus dilalui oleh Tifa adalah sebagai berikut; 1). seleksi administrasi , 2). kesehatan, 3). fisik, 4). Tes tertulis (pengetahuan akademik), 5).Tes pengetahuan umum, 6). Wawancara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Semua rangkaian tes tersebut dapat diikuti dan dapat dilewati oleh Tifa, sementara 7 temannya mulai berguguran sehingga pada tes tahap akhir (PANTOHIR), Lathifah  Khairunnisa  akhirnya berhasil lolos mewakili SMAN Plus Provinsi Riau sebagai anggota Paskibra Kota Pekanbaru tahun 2019.
Selanjutnya pada akhir bulan  Maret 2019, Para Capaska (calon paskibra) memulai latihan reguler di Kantor Walikota lama (Jl. Jend. Sudirman) 2x seminggu.  Sementara pada awal bulan Juni 2019, latihan lebih intensif dimana frekuensi latihannya ditambah dari 2 x seminggu menjadi 3 x seminggu.
Pada tanggal  7 Agustus 2019 para capaska mulai masuk masa karantina di Hotel Resty menara Pekanbaru. Mereka dikukuhkan menjadi PASKIBRA pada tanggal 15 Agustus 2019 malam. Pada tanggal 17 Agustus 2019 akhirnya mereka tampil untuk pertama kalinya di kantor walikota baru di kecamatan Tenayan Raya. Lathifah Khairunnisa dan seluruh anggota pasukan pengibar bendera (paskibra) sukses mengibarkan bendera merah putih pada paginya dan juga sukses menurunkan bendera merah putih pada sore hari harinya tanpa ada kendala yang berarti.
Selamat dan Sukses buat Lhatifah Khairunnisa serta tetap menjadi inspirasi buat generasi muda lainnya.

Kontributor berita : Edi Sutono, M.Pd

Siswa SMAN Plus Riau mewakili Indonesia dalam Pertukaran Pelajar di United Kingdom

Muhammad Abdul Raziq, salah satu siswa SMAN PLUS Provinsi Riau berhak mewakili Indonesia untuk mengikuti kegiatan pertukaran pelajar (student exchange) di United Kingdom. Ia bersama seorang mahasiswa ITB yang bernama Firman Nuruddin akan diberangkat ke United Kingdom pada tahun 2020 karena telah menjadi peserta terbaik dalam program Pengajar Jelajah Nusa 2019. Disana, mereka akan mengikuti serangkaian acara dan program pengembangan Bahasa inggris dari EF, teknologi pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga kegiatan kegiatan sosial lainnya yang sangat bermanfaat bagi generasi muda untuk di implementasikan di negara masing masing. 
Muhammad Abdul Raziq sangat bahagia dengan prestasi ini. Hal ini membuktikan bahwa siswa/siswi SMAN Plus Provinsi Riau dan juga juga para generasi muda Indonesia sebenarnya sangat potensial dan kompeten dalam meningkatkan kualitas diri mereka masing-masing seiring dengan kebutuhan pendidikan yang tepat bagi anak-anak Indonesia. Menurutnya, anak muda benar benar bisa menjadi pembeda dalam menerapkan strategi pendidikan yang tepat dari negeri kepulauan seperti Indonesia. 
Selain itu, dengan meningkatnya semangat dan kemampuan anak anak muda Indonesia akan berdampak positif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Anak muda adalah aset dan modal pembangunan yang memasuki usia produktif. Apabila usia produktif tidak dibekali dengan ilmu pengetahuan dan skill maka hal itu akan menjadi beban pembangunan. Sebaliknya, anak muda sebagai bagian dari usia produktif yang akan terus melimpah dari tahun ke tahun apabila dibekali dengan ilmu pengetahuan dan skill maka mereka akan menjadi modal pembangunan bangsa Indonesia.
Sejalan dengan Muhammad Abdul raziq, menurut Prabowo (Brand Manager Ultra Milk), Program Pengajar Jelajah Nusa merupakan hasil kerjasama Ultra Milk dan Yayasan Indonesia Mengajar yang melibatkan anak-anak muda Indonesia untuk berkontribusi pada pendidikan Indonesia agar lebih baik lagi. Hal ini sangat baik dan positif karena peran dan keterlibatan anak muda dalam pendidikan akan berpengaruh positif bagi dunia pendidikan di Indonesia saat ini. 
Tempat pelaksanaan kegiatan dari program tersebut merupakan persetujuan antara pihak ultra milk dengan Yayasan Indonesia Mengajar.  “Sebelum mereka berangkat, diberi pembekalan dulu untuk mengajar kreatif. Kami cari momen yang pas musim liburan sekolah. Kalau pilih daerah itu tidak ada alasan khusus. Kami menggandeng Indonesia Mengajar, jadi lokasinya mengikuti saja dan cuma seminggu,” imbuh Prabowo. 
Program Pengajar Jelajah Nusa itu sendiri sudah di mulai sejak tahun  untuk anak-anak SMA dan tahun ini merupakan tahun ketiga. Namun, yang berbeda pada tahun ini adalah melibatkan anak kuliah. Peserta terus meningkat setiap tahun, dari 18 orang pada 2017, naik menjadi 24 orang pada 2018, dan 30 orang pada 2019. Diharapkan tahun 2020 pesertanya bisa mencapai 36 orang. “Misi kami ingin menginspirasi anak-anak muda untuk menyebar kebaikan. Kami coba anak-anak muda untuk berkontribusi jadi penggerak memecahkan masalah. Meski cuma seminggu, mudah-mudahan ada perubahan yang bisa diceritakan,” tutur Prabowo.
Selamat dan Sukses buat Muhammad Abdul Raziq!!!
Kontributor : Edi Sutono, M.Pd

1 siswa SMAN Plus Provinsi Riau Terpilih sebagai Pengajar Terbaik dalam Event Pengajar Jelajah Nusa 2019

Muhammad Abdul Raziq, salah satu siswa SMAN PLUS Provinsi Riau, berhasil menjadi peserta terbaik dalam kegiatan pengajar jelajah nusa 2019 ini yang disponsori oleh ultra milk dan Komunitas Indonesia Mengajar. Kegiatan ini bertujuan untuk mewadahi anak-anak muda, baik siswa SMA maupun mahasiswa, agar dapat berkontribusi nyata dalam memajukkan pendidikan melalui kegiatan mengajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). 
Sebelum terpilih menjadi salah satu pengajar, ia harus melewati serangkaian seleksi terlebih dahulu, mulai dari seleksi data diri dan kontribusi sosial, esai mengenai dinamika social, lalu sesi wawancara untuk mengetahui psikologi diri peserta. Pada tahap data diri dan kontribusi social, dia menceritakan kisahnya sewaktu SMP. Ia pernah mengajar anak-anak SD di sekolah alam yang berada di Kab. Pelalawan dan membantu masyarakat disana dalam mengelola tanah yang bersifat asam menjadi tanah produktif dengan hasil penelitiannya. Akhirnya, Raziq pun dinyatakan lolos sebagai salah satu Pengajar Jelajah Nusa 2019.

Sebelum diberangkatkan ke daerah pedalaman, ia dilatih dan dibekali terlebih dahulu di Jakarta oleh para mentor dan alumni pengejar muda yang telah pernah 1 tahun mengajar di pedalaman. Setelah satu minggu menambah perbekalan ilmu, ia mendapat kesempatan untuk menginjakan kaki di tanah Borneo, Desa Petiku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Ia menjadi guru selama 1 minggu di SDN 20 Longkali yang hanya memiliki siswa sebanyak 20 anak.
Selama 1 minggu disana, ia banyak melakukan berbagai aktivitas bersama anak-anak disana. Pada pagi harinya, ia mengajar dan bermain bersama anak-anak. Siang harinya ia beraktivitas bersama masyarakat setempat, seperti memanen kelapa, membuat atap dari anyaman daun, dan  menangkap kepiting. Dan sore harinya dihabiskan dengan bermain di sungai ataupun belajar bersampan dengan anak-anak setempat.
Setelah semua kegiatan itu, Raziq pun berhasil terpilih menjadi pengajar terbaik. Hal ini didasari dari penilaian individual dan kontribusi kepemimpinan Raziq dalam tim ketika merancang kegiatan-kegiatan yang kolaboratif di desanya. 
Selamat dan sukses selalu buat Muhammad Abdul Raziq!!!

Editor : Edi Sutono, M.Pd

SISWA SMAN PLUS AKAN MELAKSANAKAN PKL TAHUN 2019 DI DESA KOTO MESJID KABUPATEN KAMPAR

Salah satu program  kerja tahunan SMA Negeri Plus Provinsi Riau adalah melaksanakan Program Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa kelas XII dalam rangka Pengabdian Masyarakat Desa (PMD). Kegiatan PKL siswa SMAN Plus Provinsi Riau akan dilaksanakan pada tanggal 18-24 Desember 2019. PKL untuk kelas XII pada tahun 2019 ini akan dilaksanakan di Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar.
Tim Survey PKL SMA Negeri Plus yang di pimpin oleh Bapak Edi Sutono, M.Pd beserta beberapa guru dan siswa kelas XII telah melakukan serangkaian kegiatan sosialisasi dan justifikasi kepada Masyarakat Desa Koto Mesjid tentang program PKL SMA Negeri Plus Provinsi Riau pada hari Kamis dan Jum’at tanggal 1-2 Agustus 2019. Kepala Desa Koto Mesjid Bapak Arjunalis menyambut baik kegiatan ini karena baginya masyarakat desa Koto Mesjid sangat welcome bagi siapapun yang ingin menimba ilmu dan mencari pengalaman serta sharing informasi dengan masyarakat desa Koto Mesjid.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Koto Mesjid Bapak Wan Chandra juga menyatakan kesiapan  masyarakat Desa Koto Mesjid dalam menyambut siswa siswi SMA Negeri Plus Provinsi Riau yang akan melaksanakan program PKL di desa Koto Mesjid. Baginya, dengan kedatangan siswa siswi SMA Negeri Plus di Desa Koto Mesjid akan menambah semangat dan motivasi para remaja dan anak anak untuk belajar lebih giat dalam mempersiapkan masa depannya. 
Tim survey PKL SMAN Plus juga diajak berkeliling desa Koto Mesjid untuk melihat sarana prasarana desa, UMKM, dan juga produk produk andalan Desa Koto Mesjid yang identik dengan ikan patin. Menurut Bapak Arjunalis, setiap hari Desa Koto Mesjid dapat menghasilkan 16 ton ikan patin yang telah diolah dalam bentuk 9 turunan seperti; ikan asin, abon, nuget, salai dan lain lain. Hal ini semakin meyakinkan bahwa Desa Koto Mesjid merupakan tempat yang sangat tepat dan layak untuk dijadikan tempat Praktek Kerja Lapangan siswa SMA Negeri Plus Provinsi Riau. 
Selain itu, ternyata Desa Koto Mesjid merupakan Desa yang sudah sangat populer dalam menghasilkan ikan patin. Telah banyak lembaga, organisasi, perusahaan, pemerintah daerah maupun institusi lain yang pernah mengadakan studi banding ke Desa Koto Mesjid. Bahkan para pejabat PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebagai salah satu Perusahaan BUMN yang dipimpin oleh ibu Nafsiah Dahlan Iskan pernah menghadiri panen raya ikan patin, memasak ikan patin dan juga menginap dirumah warga desa Koto Mesjid  beberapa tahun yang lalu.
Nilai positif lain dari desa Koto Mesjid yang semakin membuat tim survey SMAN Plus terkagum kagum adalah bangunan-bangunan rumah di desa tersebut. Rata-rata rumah dibangun cukup megah, besar, dan indah. Jauh dari kesan rumah-rumah di pedesaan. Meski, masih ada saja beberapa rumah yang memang terbuat dari kayu. Menurut Suhaimi, salah satu tokoh masyarakat yang merupakan pelopor ternak ikan patin menyatakan ”Ya, rumah-rumah di sini memang banyak yang mulai dibangun. Ini seiring semakin baiknya penghasilan warga sini karena memelihara ikan patin,”
Desa Koto Mesjid sebenarnya merupakan pecahan dari Desa Pulau Gadang yang terletak sekitar 10 kilometer (km) dari lokasi Desa Koto Mesjid. Seiring dengan proses pembangunan PLTA Koto Panjang maka seluruh warga dari Desa Pulau Gadang harus direlokasi ke Desa Koto Mesjid  karena Desa Pulau Gadang adalah salah satu desa yang terdampak pembangunan PLTA Koto Panjang. ”Kami dari daerah pesisir dipindah ke pegunungan dengan diberi uang suguh hati (uang saku), tanah seperempat hektar untuk rumah, dan 2 hektar lahan kebun,” ujar Suhaimi. Warga diberi lahan kebun karena selama ini pekerjaan utama mereka adalah berkebun karet. Suhaimi mengisahkan, awalnya warga hidup dengan keterbatasan. Kebun yang ditanami karet belum memberi hasil. Namun kian lama usaha Suhaimi membuahkan hasil. Dari hanya dikerjakan sendiri, ia mulai memiliki pekerja. Tahun 2003, dengan mendapat suntikan dana dari Telkom, usaha Suhaimi kian berkembang. Warga mengikuti jejaknya. 
Selain itu, ternyata  PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) telah menyalurkan dana pinjaman untuk budidaya ikan patin di Desa Koto Mesjid dan Pulau Gadang, Kabupaten Kampar, Riau sebesar Rp Rp 8 miliar. Senior General Manager (SGM) Community Development Center, Ade Sulchi, mengatakan bahwa pemberian pinjaman dana bergulir adalah program yang sudah dilakukan Telkom sejak tahun 2003 dengan tujuan membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Sejak 2003 hingga triwulan kedua 2012, Telkom telah menyalurkan dana pinjaman sebesar Rp 8 miliar kepada 185 UMK Binaan Telkom di Koto Mesjid dan Pulau Gadang,” kata Ade Sulchi.
Pada 19-20 Februari 2013, bertempat di Desa Koto Mesjid, Kabupaten Kampar, Riau, digelar kegiatan Panen Raya Ikan Patin. Kegiatan ini dihadiri istri Menteri BUMN Ibu Nafsiah Sabri Dahlan Iskan, istri Direktur Utama Telkom Ibu Poni Iravati Arief Yahya, istri Direktur Human Capital & General Affair Telkom Ibu Kirana S. Priyantono Rudito, dan istri Direktur Konsumer Telkom Ibu Sisca Natalleny Sukardi Silalahi.
Desa Koto Mesjid adalah desa transmigrasi akibat dari pembangunan waduk PLTA Koto Panjang yang mayoritas berasal dari penduduk tempatan dengan berbagai macam mata pencaharian. Untuk usaha di bidang perikanan, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1998. Pada tahun 2008, usaha sektor perikanan mengalami kemajuan dan memberikan “warna” tersendiri bagi desa Koto Mesjid.
Dengan adanya budidaya ikan Patin, kini Kabupaten Kampar, Riau dikenal sebagai penghasil ikan patin terbesar di Sumatera. Desa Koto Mesjid yang letaknya di Kecamatan XIII Kabupaten Kampar dikenal dengan julukan “Kampung Patin” dan mengusung motto “Tiada Rumah Tanpa Kolam Ikan”. Lebih dari 700 kolam dengan luas 50 ha kini disulap menjadi kolam ikan patin. Dari budidaya ini, sedikitnya menghasilkan sebanyak 16 ton ikan patin per harinya.
Program yang bekerja sama dengan Pemkab Kampar ini berhasil menyerap sebanyak 216 tenaga kerja dengan penghasilan perbulan 5-6 juta. Tingkat pertumbuhan desa mengalami peningkatan kolektibilitas kumulatif sebesar 92% mencakup penghasilan/bulan, jumlah rumah, jumlah kolam, dan jumlah mobil yang dimiliki masyarakat. Pada tahun 2010, Desa Koto Mesjid meraih penghargaan Adi Bakti Mina Bahari Pembudidaya Teladan, Juara 1 untuk pengolahan ikan patin di propinsi Riau, dan ditetapkan sebagai salah satu Desa Pengembangan Terpadu.