Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber belajar Biologi

Mulya Manru, M.Pd (Guru Biologi)
Sebagaimana yang telah kita maklumi  bahwa guru memiliki peranan yang sangat menentukan pada keberhasilan pembelajaran anak didik. Seorang guru yang profesional mampu mendayagunakan seluruh potensi yang ada untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mendorong siswa lebih aktif mendapatkan pengetahuan dengan mengkontruksi pengetahuan sendiri melalui interaksi dirinya dengan sumber belajar. 
Salah satu sumber belajar yang sering terabaikan oleh guru-guru termasuk dalam hal ini guru-guru biologi adalah pemanfaatan seoptimal mungkin lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah di sini adalah pekarangan sekolah sebgai suatu ekosistem atau ekosistem disekitar sekolah sebagai sumber belajar potensial dan efektif dalam membangun pengetahuan, sikap ataupun keterampilan anak didik sebagai wadah pengembangan life skill mereka.
Pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan lingkungan sekolah atau potensi- potensi di sekitar sekolah akan lebih mengefektifkan pendekatan pembelajaran yang telah dikenal guru saat ini..  Pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar sesungguh bisa terjadi dengan beberapa pendekatan,  umpamanya  belajar interaksi antar organisme di kebun sekolah merupakan contoh pembelajaran dengan pendekatan lingkungan.  Seorang guru biologi memulai pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada suatu masalah di lingkungan sekolah, umpamanya bunga di pekarangan tidak tumbuh dengan subur, lalu siswa dibimbing untuk mendapatkan jawaban secara mandiri atau berkelompok tentang permasalahan tersebut adalah sebuah contoh pembelajaran dengan pendekatan berbasis masalah (Problem Based Learning). 
Pembelajaran berbasis masalah membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir dan pemecahan masalah, karena siswa  belajar menjadi orang dewasa dengan melibatan mereka dalam suasana nyata, sehingga mereka menjadi lebih mandiri. Pembelajaran berbasis masalah mengkondisikan siswa dalam penyelidikan secara mandiri atau terbimbing, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahaman tentang penomena itu
Bila permasalahan diapresiasi dengan penelitian mengikuti kerangka berfikir ilmiah maka hal tersebut adalah Inquiry-Discoveri yang akan membangun keterampilan proses siswa mulai dari tindakan observasi, prediksi dan membuat hipotesis, mengidentifikasi variable, melakukan penelitian dengan menggunakan alat dan bahan percobaan, mengontrol variable, mengumpulkan data, mengorganisasi dan memaknai data, membuat laporan penelitian  dan mampu mengkomunikasikan kepada orang lain.
Belajar reproduksi tumbuhan melalui praktek pembibitan dengan melibatkan nara sumber dari luar misalnya dari balai benih disekitar sekolah dengan pemanfaatan teknologi sederhana yang ada di tengah masyarakat adalah  contoh pendekatan Sains tekhlogi masyarakat (STM).  
Bila pembelajaran dirancang dengan mengedepan pertimbangan kekhasan daerah dan lingkungan nyata siswa dengan langkah-langkah Kontruktives, inquiry, bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), Refleksi, permodelan dan mengggunakan authentic assesment  adalah  cerminan dari pendekatan kontekstual telah terlaksana pada pembelajaran tersebut.
Pembelajaran Biologi  di pekarangan atau lingkungan  sekitar sekolah  memungkinkan siswa belajar lebih leluasa melibatkan seluruh potensia indra, emosi  dan organ motoriknya karena pembelajaran terasa lebih nyata sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami. 
Hamalik (2003) menyatakan bahwa pembelajaran modern lebih dititik beratkan pada aktivitas sejati. Aktivitas sebagai asas pembelajaran memiliki manfaat:
1) Siswa mencari pengalaman sendiri dengan langsung mengalami sendiri
2) Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa
3) Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa yang pada gilirannya dapat       memperlancar kerja kelompok
4) Memupuk disiplin belahar dan suasana belajar yang demokratis, kekeluargaan, musyawarah dan mupakat
5) Membina dan memupuk kerjasama antar sekolah dan masyarakat dan hubungan antar guru dan orang tua siswa yang bermanfaat dalam pendidikan siswa
6) Pembelajaran dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta menghindari terjadinya verbalisme
7) Pembelajaran dengan kegiatan belajar menjadi lebih hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat yang penuh dinamika.
Nasution (1985) mengatakan bahwa benda-benda nyata memberikan kesempatan siswa melihat sendiri secara langsung dan sekaligus dapat mengembangkan keterampilan psikomotor, serta memudahkan siswa dalam perkembangan mental dan memperluas tanggapan-tanggapannya, sehingga dengan demikia kedekatan anak kepada pelajaran bertambah. Pembelajaran di lingkungan asli sekitar sekolah mampu  memperluas dan memperdalam konsep yang diajarkan guru, karena siswa  menggunakan contoh yang akurat dan penomena yang real terjadi. Menurut ahli pendidikan penguasaan belajar dari berbagai modus pembelajaran adalah: 10% dari membaca, 20% dari mendengar, 30% dari melihat, 50% dari melihat dan mendengar, 70% dari mengatakan dan 90% dari mengatakan dan melakukan. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran akan efektif kalau siswa terlibat fisik dan emosional dengan kegiatan pembelajaran serta mendiskusikan secara aktif dalam kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan seluruh siswa terlibat berinteraksi secara aktif (Cooperatif Learning).
Pembelajaran Biologi umumnya lebih efektif jika  berlangsung di pekarangan atau lingkungan sekolah dan atau lingkungan sekitar sekolah. Akan lebih lebih bermakna jika siswa dibimbing menbina sebuah ekosistem mini dengan membangun kebun sekolah, apotik hidup atau kolom ikan. Pembelajaran tentang pencemaran lingkungan lebih bermakna jika siswa dibimbing mempraktekkan teknik pengolahan sampah atau kompos. Praktikum reproduksi tumbuhan akan lebih berharga jika diarahkan pada usaha penghijauan sekolah atau lingkungan sekitar sekolah.
Pembelajaran yang konstruktif seperti diatas akan mematri life skill siswa lebih mendalam, karena dari pembelajarn yang bermakna dan kontruktif tersebut akan memudahkan guru memberikan kasadaran diri (self awareness) akan potensi diri dan kedudukan pribadi di sisi Allah SWT dan di tengah masyarakat. Kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan vocasional sebagai bagian dari life skill akan lebih mudah dibangun dan diperkuat.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *